Sunday, June 16, 2013

Pendidikan Kritis - Berkesadaran Paulo Freire


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

            Pendidikan merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam perkembangan kehidupan masyarakat. Pada awalnya setiap orangtua siswa-siswi berharap kelak anak-anaknya akan menjadi orang yang mandiri dan tegar dalam menghadapi kehidupan dengan jalan memasukannya ke sebuah lembaga pendidikan. Pada dasarnya pendidikan adalah manifestasi kehidupan. Proses pendidikan adalah proses pemanusiaan manusia untuk menjadi manusia yang se-utuhnya. Namun yang terjadi ternyata  tidak berjalan selaras pada kenyataan yang diharapkan(khususnya di Negara Indonesia). Pendidikan yang seharusnya menciptakan manusia yang mandiri dan mampu berkata ”ya pada kehidupan” dengan terpeliharanya “kehendak untuk berkuasa” ternyata telah mengalami dehumanisasi yang membuat manusia malah menjadi lemah dan tidak berdaya dalam kehidupan serta asing dengan dunianya. Ketidakmampuan dan ketidakberdayaan ini tercermin pada fenomena antrian beribu-ribu penganggur yang mengajukan lamaran pekerjaan, dan hal ini terjadi secara rutin dari tahun ke tahun, mereka berbondong-bondong membawa ijazah yang menjadi tumpuan dan harapan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapnya.
Manusia adalah penguasa atas dirinya, dan telah menjadi ciri khas tersendiri bagi manusia bahwa ia mampu mengatasi masalahnya sendiri dengan “kehendak untuk berkuasa” yang dimilikinya. Dan oleh karena itu keinginan seorang manusia adalah merdeka dan bebas. Hal yang seperti inilah yang diupayakan oleh Paulo Freire untuk memperjuangkan pendidikan yang humanis, pendidikan yang tidak merendahkan kemanusiaan





1.2   Rumusan Masalah

            Dengan menyadari betapa vitalnya aspek pendidikan dalam masyarakat, melalui makalah ini, akan di bahas tentang pemikiran Paulo Freire yang telah luar biasa banyak memberi kontribusi terhadap dunia pendidikan, antara lain:
1.      Bagaimanakah Pendidikan Kritis Berkesadaran yang dikemukakan oleh Paulo Freire dalam kajian filsafat?

2.      Bagaimanakah pemikiran Kritis Berkesadaran yang dikemukakan oleh Paulo Freire berkontribusi ke dalam dunia pendidikan?

                       

BAB II

ACUAN TEORITIK


2.1 Tokoh Aliran (Paulo Freire, 1921-1997 )
            Paulo Freire lahir pada 19 September 1921 di sebuah kota terpencil yang ada di Brazil yakni Recife, sebuah kota yang terletak di pesisir pelabuhan di timur laut Brazil. Paulo Freire berasal dari keluarga kelas menengah ke atas, namun kadang kekurangan finansial merupakan warna tersendiri dalam kehidupan keluarganya, dan karena pola hidup dan kondisi sosial demikianlah yang mengantarkan Freire akan arti lapar dan kesengsaraan hidup dalam sebuah penindasan. Ia mengalami langsung kemiskinan dan kelaparan pada masa Depresi Besar 1929, suatu pengalaman yang membentuk keprihatinannya terhadap kaum miskin dan ikut membangun pandangan dunia  pendidikannya yang khas. Ia benar-benar memahami betul arti lapar. Dengan kondisi sosial seperti itulah yang mendorongnya untuk berjanji akan bekerja diantara kaum miskin dan mencoba untuk memperbaiki nasib hidup mereka (orang-orang yang tinggal di sekelilingnya). Setelah situasi ekonomi keluarganya sedikit membaik ia berkesempatan untuk kuliah di Fakultas Hukum, University of Recife. Ia mulai belajar di Universitas Recife pada 1943, sebagai seorang mahasiswa hukum. Namun, di sana ia juga belajar Psikologi, filsafat dan bahasa. Dalam masa-masa kuliahnya ia bekerja sebagai instruktur di sebuah sekolah. Selama periode tersebut ia mulai berkenalan dengan filsafat dengan membaca karya-karya Karl Marx, dan juga intelektual Kristen, Mariatin, Bernanos dan Mounier, yang semuanya mempengaruhi cara pandang dan pemikiran Freire mengenai filsafat pendidikannya. Meskipun ia lulus sebagai ahli hukum, ia tidak pernah benar-benar mempraktekkan ilmu hukumnya selama karier hidupnya. Sebaliknya, ia bekerja sebagai seorang guru disekolah-sekolah menengah untuk mengajar bahasa Portugis.


            Pada tahun 1944, tepatnya ketika Freire berumur 23 tahun, ia menikahi Elza Maria Costa Oliveira. Sebagai seseorang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan, ia lebih sering menelaah bacaan tentang pendidikan daripada tentang hukum. Mereka berdua bekerja bersama selama hidupnya sementara istrinya juga membesarkan kelima anak mereka. Freire diangkat sebagai Direktur dari Departemen Perluasan Budaya dari Universitas Recife pada 1961 dan pada 1962 ia mendapatkan kesempatan pertama untuk menerapkan secara luas teori-teorinya, ketika 300 orang buruh kebun tebu diajar untuk membaca dan menulis hanya dalam 45 hari. Pada awal tahun 1963-1964 tim yang dibuat Paulo Freire mulai melakukan penyebaran ke segala pelosok negeri yang ada di Amerika latin untuk melakukan pemberantasan buta huruf. Mereka berhasil menarik minat warga dalam memberantas buta huruf dan berhasil membuat warga yang buta huruf tersebut untuk bisa baca tulis. Pada 1946, Freire diangkat menjadi Direktur Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada Dinas Sosial di Negara bagian Pernambuco (yang ibu kotanya adalah Recife).
            Kehidupan dan karir Freire sebagai seorang pendidik sangatlah penuh optimis meskipun dikungkung dalam suasana kemiskinan, dan pengasingan. Dialah pemimpin dunia yang memperjuangkan kebebasan bagi orang-orang miskin dan pejuang perlawanan budaya bisu yang ada di banyak wilayah. Selama bekerja itu, terutama ketika bekerja di antara orang-orang miskin yang buta huruf, Freire mulai merangkul bentuk pengajaran yang non-ortodoks untuk orang dewasa yang belakangan dianggap sebagai teologi pembebasan (Dalam kasus Freire, ini merupakan campuran Marxisme dengan agama Kristen). Perlu dicatat bahwa di Brasil pada saat itu, melek huruf merupakan syarat untuk ikut memilih dalam pemilu. Awal tahun 1960 merupakan masa-masa yang sulit bagi pemerintahan Brazil. Namun meskipun itu adalah masa-masa yang sulit bagi hidupnya ia tak pernah berhenti untuk melakukan perjuangannya dalam memerangi buta huruf yang ketika masa itu masih menjamur di Negara tersebut. Pada 1964, terjadi sebuah kudeta militer yang mengakhiri upaya itu dan menyebabkan Freire dipenjarakan selama 70 hari atas tuduhan menjadi penghianat dikarenakan adanya kudeta dari Militer serta atas kegiatan subversifnya.
Pada bulan April 1964, militer melakukan agresi dan meruntuhkan rezim pemerintahan Goulat. Seluruh gerakan progresif diintimidasi, dan Freire sendiri ditangkap selama 70 hari karena aktivitas subversifnya dan dituduhnya ia menjadi pengkhianat. Ketika berada di penjara ia mulai menuliskan sebuah karya pendidikan pertamanya yaitu; Education as the Partice of Freedom. Sebuah buku yang berisi renungan Freire karena kegagalannya melakukan perubahan di Brazil, buku tersebut hanya selesai ditulis setengahnya, dan kemudian ia merampungkannya di Chile dalam masa pembuangan. Di Chile ia bekerja pada sebuah program pendidikan untuk orang dewasa yang diketuai oleh  Waldemar Cortes. Gerakannya di Chile telah menarik perhatian dari pihak UNESCO. Dan kemudian UNESCO menjadikan Chile menjadi salah satu dari lima Negara tersukses dalam mengatasi buta huruf. Tahun 1969 ia telah mendapatkan undangan dari Harvard University untuk mengajar di Universitas tersebut sebagai Profesor tamu pada Harvard’s Center for Studies and Development dan juga anggota kehormatan pada Center for Study of Development and Social Change, yang mana pada masa ini merupakan tahun yang penuh dengan kekerasan di Amerika Serikat, ketika keterlibatannya dalam perang Vietnam kampus-kampus di Amerika bergejolak. Gejolak masalah rasial juga mengikutsertakan kekerasan di jalan-jalan kota Amerika Serikat. Freire pun terpengaruh akan kondisi sosial pada waktu itu. Dalam situasi seperti itu Freire menemukan bahwa tekanan dan penindasan yang terjadi di dunia ketiga dalam tekanan masalah politik dan ekonomi ternyata berlangsung dengan tak terbatas. Ia pun lalu menambahkan definisinya mengenai dunia ketiga dari konsep geografis ke konsep politis. Tema kekerasan menjadi ciri tersendiri bagi pemikiran dan tulisannya setelah masa itu. Ia menulis bukunya yang paling terkenal yaitu Pedagogy of the Oppressed  (Pendidikan Kaum Tertindas), yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol dan Inggris pada 1970. Buku Pedagogy of the Oppressed hanya kemudian diterbitkan  di Brasil pada tahun1974, dikarenakan adanya perseteruan     politik. Pada saat itu Jenderal Ernesto Geisel mengambil alih kekuasaan di Brasil dan memulai proses liberalisasi. Setelah setahun di Cambridge, Freire pindah ke Jenewa, Swiss untuk bekerja sebagai penasehat pendidikan khusus di Dewan Gereja-gereja se-Dunia. Pada tahun 1979 ia di undang kembali oleh pemerintahan Brazil untuk kembali dari pengasingannya dan diminta kembali untuk mengajar di Sao Paolo University. Dan pada tahun 1988 ia diangkat oleh pemerintah Brazil untuk menjadi menteri pendidikan. Di Rio de Janeiro, Freire menghembuskan nafas terakhirnya dalam usia 75 tahun pada tanggal 2 Mei 1997 karena penyakit jantung yang dideritanya.


2.2 Konsep Dasar Aliran (Pendidikan Kritis-Berkesadaran)
           
            Teologi Pembebasan pertama kali muncul di Amerika Latin pada tahun 1970-an. Pada masa teologi pembebasan, perubahan terjadi di dua sisi. Yang pertama; terjadi pada sisi liberal-radikal yang membuka suatu wawasan yang meski sama sekali lain namun dampak meluas. Gereja adalah komunitas para orang yang beriman, komunitas para kudus, communitas fidelium, communitas sanctorum dan bukan hanya sekedar hirarki. Yang kemudian pandangan ini melahirkan pemahaman baru yang menyatakan bahwa; bahwa peran Gereja bukan hanya sekedar kerajaan langit yang sama sekali tidak berarti dan tidak berperan dalam kehidupan Dunia. Bagi Maritain peran gereja haruslah mengenal Dunia dengan menjadikan diri bagian dari mata rantai dunia, being linked to the world, dengan memberikan komitmen kepada dunia being committed to the world.
Perubahan yang kedua dan lebih dahsyat adalah berlangsung pada teologi pembebasan itu sendiri. Berawal dari apa yang diungkapkan oleh Konsili Vatikan II bahwa Allah adalah pencipta, akan tetapi berbalik dengan asumsi utama bahwa “rakyat adalah sumber ilham dan otoritas agama. Teologi menjadi teori dan praxis dalam arti kegiatan yang mendorong seseorang dan masyarakatnya menuju suatu perubahan nasib dalam arti ekonomi dan sosial. Dengan demikian keterlibatan gereja di dalam kehidupan sosial dan ekonomi menjadi jauh lebih penting. Dengan begitu masuknya teori Marxis dalam prihal Teologi menjadi tidak terelakan atau tidak dapat dicegah. Pemikiran seperti inilah yang pada tahun 1980-an mempengaruhi Eropa dan terutama Amerika Latin sehingga mempengaruhi pemikiran Faulo Freire.
            Dalam membicarakan Teologi Pembebasan, Freire memberi obat penangkal teoritis yang berbau sinisme dan keputusasaan, walaupun banyak kelompok kiri yang juga melancarkan kritik secara radikal terhadapnya. Analisisnya yang tampak utopis menjadi konkrit atas semangat pembebasan dan “rangsangannya”, serta menjadi strating point yang bersifat kolektif di dalam berbagai macam keadaan sejarah, dan khususnya ketika terjadinya penindasan. Analisisnya dikatakan utopis karena menolak untuk menghindar dari resiko dan bahaya yang mengancamnya, sebab ia sangat menentang struktur kekuasaan yang dominan. Visi profetiknya dikatakan profetis karena baginya manusia seharusnya meyakini kekuasaan Tuhan. Kesadaran yang dmaksud  Freire ini muncul karena kaum tertindas. Freire memadukan sejarah dan teologi untuk membuat dasar teoritis bagi sistem pendidikan radikal yang mencakup tumbuhnya harapan, refleksi kritis dan perjuangan bersama. Ini tercermin dalam tindakannya dengan melakukan kritik dan menciptakan kemungkinan yang lebih baik. Karena Paulo Freire sedikit banyak terinspirasi oleh gerakan teologi pembebasan dan peranan Gereja yang menjadi alat perjuangan para teolog. Dalam menganalisis peranan gereja, akan lebih mudah, jika dipahami hubungan antar gereja dan ajaran-ajarannya. Dengan demikian  cukup hanya untuk melihat masalah yang dihadapi masyarakat Amerika Latin pada waktu itu secara literatur kesejarahan mungkin bisa disimak sebagai berikut:
1.Gereja Tradisionalis
Gereja tradisionalis masih sangat tradisionalis. Ia bahkan bisa disebut juga sebagai gereja misionaris, gereja yang cenderung memisahkan antara urusan-urusan dunia dan akhirat. Alasan masalah duniawi cenderung diabaikan karena orang-orang tradisionalis cenderung memandang bahwa dunia adalah sampah, dimana dunia adalah tempatnya dosa-dosa bertebaran. Oleh kerena itu dunia dipandang sebagai tempat penebusan dosa-dosa, bagi kalangan gereja tradisional memandang bahwa semakin orang-orang menderita akan semakin bersihlah manusia, dan akhirnya bila ia taat atas penebusan dosa-dosa yang dilakukannya ia akan diganjarkan surga dalam kehidupan abadi esok hari setelah mati.
Pandangan seperti ini menurut Freire akan menyenangkan kaum fatalistis, dan sebaliknya sangat tidak menguntungkan bagi orang-orang tertindas dalam perjalanan sejarahnya. Di dalam pandangan tersebut, seolah kaum tertindas ini akan merasa seolah-olah telah menemukan obat penyembuh atas keletihan yang dideritannya. Oleh karena itu maka suatu konsekuensi logis jika nantinya orang-orang akan tenggelam dalam budaya bisu mereka. Mereka tak akan kuasa menghadapi kekerasan kaum penindas, bukanlah semangat perlawanan yang akan dilakukannya, tetapi orang-orang tertindas akan segera berduyun-duyun menuju gereja untuk melakukan pengaduan karena tawaran surga akan ke-relijiusan mereka.
Kegelisahaan kaum tertindas akan situasi dan pemahaman demikian akan membuat kaum tertindas merasa teralienasi dari kehidupannya. Karena kgelisahan yang dirasakannya akan berdampak pada amarah mereka akan dunia, bukan pada sistem sosial yang menghancurkan tatanan dunia. Dan orang-orang yang berkesadaran demikian menurut Paulo Freire adalah kesadaran magis.
2. Moderenisasi Gereja
Dalam era moerenisasi gereja, orang-orang banyak yang meninggalkan paham gereja tradisional. Sejarah menunjukan bahwa sikap moderenisasi gereja ini mulai muncul ketika elemen-elemen modernisasi banyak menggantikan struktur sosisial yang bersifat tradisional. Orang-orang yang dulu tertindas pada masa ini mereka mulai bangkit kembali dan menyesuaikan diri dengan masa industrialisasi.
Namun moderenisasi gereja menuju kebebasan tidak pernah sampai melakukan perubahan yang mendasar dalam hubungan masyarakat yang dikuasai dan menguasai, dan dengan munculnya kekuatan masa ketika kaum tertindas melawan si penindas bukanlah atas dasar kesadaran kritis dari yang tertindas. Dan pada akhirnya ini akan berimplikasi pada pergantian penindas lama dengan penindas baru, dehumanisasi akan terus abadi jika kesadaran orang-orang seperti itu. Itu terjadi karena ajaran moderenisme tidak pernah mengajarkan keterlibatan historis kaum tertindas di dalam pengertian yang sebenarnya, yakni perjuangan yang tertuju pada pembebasan masyarakat. Dikarenakan budaya moderenisasi gereja sangat sibuk dengan perkembangan industrialisasi yang tidak lebih hanya sekedar sedikit melakukan perubahan dan lebih cenderung membela ukuran-ukuran neo-kapitalitik, dan yang akan dilahirkan dari modernisasi gereja hanyalah kesadaran-kesadaran masyarakat yang naif, kesadaran yang cenderung memandang manusia sebagai penyebab masalahnya. Jika demikian, bukanlah humanisasi yang ditegakan, tetapi pergantian penindas lama dengan penindas baru, sebab mereka cenderung mengabaikan sistem sosial yang menghancurkan tatanan dunia.
3. Gereja Profetik
Akhirnya muncullah jenis gereja lain di dunia ketiga. Sebenarnya gereja ini sama tuanya dengan kristianitas itu sendiri, namun berbeda degan gereja tradisional. Gereja jenis ini pun sama barunya seperti gereja modern namun berbeda dengan modernisasi gereja itu sendiri. Gereja profetik sangatlah berbeda dengan gereja tradisional dan modern sekalipun. Gereja profetik menolak semua pemikiran yang statis yang diajarkan gereja tradisional dan modern.
Gereja ini menolak menjadi (becoming), untuk meng-ada (to be). Karena gereja ini berpikir kritis, oleh karena itu tidak memisahkan transendensi dari usaha pembebasan atas penindasan yang terjadi di dunia. Gereja profetik ini memandang revolusi sebagai alat pembebasan kaum tertindas, dan kudeta militer adalah sebagai kontra gerakan yang reaksioner. Sikap profetik yang mewujud dalam praksis umat Kristen di dalam sejarah Amerika Latin yang menentang, disertai dengan refleksi teologis yang kaya. Bagi Freire, untuk menjadi profetik, masyarakat teknologis Eropa dan Amerika Utara tidak perlu datang ke dunia ketiga. Mereka hanya perlu melepaskan melepaskan pakaian ‘kota besarnya’, tanpa menjadi naif atau licik, dan disini mereka akan menemukan stimulus yang cukup untuk berpikir jernih untuk diri mereka sendiri. Mereka akan menemukan bahwa diri mereka bertentangan dengan ungkapan-ungkapan dunia ketiga. Setelah itu, mereka akan mulai mengerti bagaimana latar belakang munculnya profetisitas di Amerika Latin.


BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pendidikan Kritis-Berkesadaran Sebagai Filsafat

            Bagi penganut mazhab Freirean (Pendidikan Kritis-Berkesadaran), hakekat pendidikan adalah demi membangkitkan kesadaran kritis sebagai prasyarat proses humanisasi atau memanusiakan manusia.  Dalam buku Freire yang terkenal, “Pendidikan Kaum Tertindas” (“Pedagogy of The Opressed), Freire memberi gagasan bahwa pendidikan adalah “proses memanusiakan manusia kembali”. Gagasan ini berangkat dari suatu analisis bahwa sistem kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya, membuat masyarakat mengalami proses ‘demumanisasi’. Demikian  juga kuatnya berpengaruh budaya fatalisme dan teologi kepasrahan akibat dominasi ideologi dominan. Pada banyak pendekatan pendidikan, diam-diam telah mewarisi pikiran positivisme seperti obyektivitas, mendewakan empirisme, netral dan tidak memihak pada yang teraniaya dan tertindas, berjarak dengan obyek pendidikan (detachment), rasional dan bebas nilai membuat banyak pendidikan menghambat proses pembebasan dan dan menghilangkan watak dan benih-benih emansipatoris pada setiap proses pendidikan. Pendidikan dalam perspektif positivistik merupakan proses fabrikasi dan mekanisasi pendidikan untuk memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan ‘pasar kerja’. Pendidikan juga tidak toleran terhadap segala bentuk ‘non positivistic ways of knowing’ yang disebut sebagai tidak ilmiah. Pendidikan menjadi ahistoris, yakni mengelaborasi model masyarakat dengan mengisolasi banyak variabel dalam model tersebut. Peserta pendidikan dididik untuk tunduk pada struktur yang ada mencari cara-cara dimana peran, norma, dan nilai-nilai yang dapat integrasikan dalam rangka melanggengkan sistem tersebut. Asumsi yang mendasari pendidikan itu adalah bahwa tidak ada masalah dalam sistem yang ada, masalahnya terletak pada sikap mental, pengetahuan dan keterampilan peserta didik belaka, termasuk kreativitas, motivasi, keahlian teknis. Oleh karena itu dalam perspektif positivisme, pendidikan lebih dimaksud untuk mengembangkan kecerdasan, ketrampilan dan keahlian peserta didik belaka, sementara komitmen, keyakinan dan kepercayaan terhadap sistem yang lebih adil dan motivasi untuk menantang terhadap sistem sosial yang tidak adil tidak disentuh, namun lebih sibuk memfokuskan pada bagaimana membuat sistem yang ada bekerja.
            Dalam buku “Pedagogy of The Opressed”, Freire mengemukakan bahwa peranan guru sangat strategis secara positif maupun negatif dalam setiap proses pendidikan guru dari proses dehumanisasi juga mendapat perhatian. Dalam perspektif pendidikan yang menindas, para guru berperan dan menempatkan diri mereka justru sebagai subyek pendidikan, sementara itu peserta didik diletakkan sebagai obyek pendidikan. Buku ini menjernihkan bagaimana mentransformasikan hubungan antara guru dan peserta didik menjadi hubungan yang “dialogis”. Hubungan guru dan peserta didik dibanyak pendidikan sering terjadi lebih bersifat hubungan atau relasi kekuasaan atau “subjugation” yakni proses penjinakan dan penundukan, terutama pada pendidikan dan yang menjadikan peserta didik sebagai obyek. Pendirian yang dianut oleh pendidik Freirean adalah, pendidikan yang meletakkan peserta didik sebagai obyek pendidikan, adalah pendidikan penjinakan dan oleh karenaya itu adalah proses dehumanisasi. Para guru Freirean menganut suatu paradigma pendidikan tidak saja membebaskan dan mentransformasikan pendidikan dengan struktur diluarnya, tapi juga bercita-cita mentransformasi relasi ‘knowledge/power dan dominasi hubungan yang ‘guru murid’ terlebih dulu.
            Pada dasarnya Pendidikan Kritis-Berkesadaran (Freian) adalah suatu pendekatan dan pemikiran pendidikan yang berangkat dari asumsi bahwa pendidikan adalah proses pembebasan dari sistem yang menindas. Penganut pendidikan Freirean berangkat dari suatu kepercayaan bahwa pendidikan tidak pernah terbebas dari kepentingan politik ataupun terbebas demi melanggengkan sistem sosial ekonomi maupun kekuasaan yang ada. Sebaliknya pandangan ini juga berasumsi bahwa pendidikan bagi aparat dominasi, selalu digunakan demi melanggengkan ataupun melegitimasi dominasi mereka. Oleh karena itu hakekat pendidikan umumnya, bagi mereka, tidak lebih dari sebagai sarana untuk mereproduksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil seperti sistem relasi kelas, relasi gender, relasi rasisme ataupun sistim relasi lainya. Pandangan ini dikenal dengan “teori reproduksi” terhadap sistim yang tidak adil melalui pendidikan. Berbeda dengan pandangan maupun teori “reproduksi” dalam pendidikan tersebut, ada pandangan maupun teori pendidikan yang juga datang dari kelompok pendidik radikal, yang justru berangkat dari asumsi dan keyakinan bahwa pendidikan adalah proses “produksi” kesadaran kritis, seperti menumbuhkan kesadaran kelas, kesadaran gender maupun kesadaran kritis lainnya. Pandangan kedua inilah yang dianut oleh aliran Freirean tersebut. Oleh karena itu, pendidikan bagi kelompok Freirean, merupakan proses pembebasan manusia. Pendirian Freirean berangkat dari asumsi, bahwa manusia dalam sistem dan struktur sosial yang ada, pada dasarnya mengalami proses dehumanisasi karena eksploitasi kelas, dominasi gender maupun karena hegemoni dan dominasi budaya lainnya. Oleh karena itu pendidikan merupakan suatu sarana untuk “memproduksi” kesadaran untuk mengembalikan kemanusiaan manusia, dan dalam kaitan ini, pendidikan berperan untuk membangkitkan kesadaran kritis sebagai prasyarat upaya untuk pembebasan. Proses pendidikan sebagai proses pembebasan tidak pernah terlepas dari sistem dan struktur sosial, yakni konteks sosial yang menjadi penyebab atau yang menyumbangkan proses dehumanisasi dan keterasingan pada waktu pendidikan diselenggarakan .
            Dalam perspektif kritis, tugas pendidikan adalah melakukan refleksi kritis, terhadap sistem dan ‘ideologi yang dominan’ yang tengah berlaku di masyarakat, serta menantang sistem tersebut untuk memikirkan sistim alternatif kearah transformasi sosial menuju suatu masyarakat yang adil. Tugas ini dimanifestasikan dalam bentuk kemampuan menciptakan ruang agar muncul sikap kritis terhadap sistem dan struktur ketidakdilan sosial, serta melakukan dekonstruksi terhadap diskursus yang dominan dan tidak adil menuju sistim sosial yang lebih adil. Dalam perspektif Freirean, pendidikan harus mampu menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain tugas utama pendidikan adalah ‘memanusiakan’ kembali manusia yang mengalami “dehumanisasi” karena sistem dan struktur yang tidak adil. Paham pendidikan Freirean ini cocok dengan paradigma transformatif. Pendidikan dalam perpektif ini juga menjadi arena kritik ideologi. Dalam pelatihan bagi para buruh misalnya, peserta pendidikan, perlu ditantang untuk memahami proses eksploitasi yang mereka alami, serta memikirkan proses pembebasan dari alienasi dan eksploitasi buruh, disamping penekanan pada teori motivasi kerja demi efisiensi yang hanya menguntungkan akumulasi kapital tersebut. Demikian halnya dalam kontek pendidikan pertanian misalnya, para petani saat ini sering diarahkan hanya untuk memenuhi ambisi produktivitas dan efisiensi sebagai implikasi dari pendukung pertanian dari pandangan dominan Revolusi Hijau dan rekayasa genetika, namun jarang difasilitasi untuk mempertanyakan relasi kekuasaan dan bencana bagi para petani dari suatu teknik pertanian. Dalam kontek itulah pilihan paradigma pendidikan memainkan peran strategis untuk proses perubahan dan transformasi sosial.


3.2  Pendidikan Kritis-Berkesadaran Dalam Dunia Paulo Freire
Memahami filsafat Freire sangatlah berbeda dengan corak filsafat Yunani atau barat pada umumnya. Sepak terjang yang dilakukannya pertama-tama harus dapat memposisikan sendiri sebagai seorang pejuang dan berdialog dengan Freire, karena corak filsafatnya mengenai pendidikan lebih bersifat praksis. Namun makna praksis yang dimaksud Freire memiliki perspektif yang berbeda. Praksis merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan antara  refleksi dan aksi dalam pengenalanan perubahan social, ekonomi dan politik.
Pemikiran Freire tentang pendidikan lebih menyerupai petunjuk (guidance) normative dalam hal-ihwal kependidikan. Yaitu lebih berupa bimbingan untuk menjadi seorang guru yang benar dan murid yang benar dalam arti tahu posisi dan tanggungjawabnya sebagai manusia yang berpendidikan. Pendidikan haruslah saling berhadapan antara murid dan siswa, bukan malah menjaga jarak antara guru dan murid sehingga membuat murid akan teralienasikan dari kehidupan dunia nyata.
Karena Freire terinspirasi oleh gerakan Teologi Pembebasan Amerika Latin, dalam hal filsafat pendidikannya pun dengan pembagian klasifikasi kesadaran adalah analisis dari kesejarahan peran gereja dalam melakukan gerakan perubahan  teologi pembebasan. Kemudian dalam hal filsafat pendidikan ia menggolongkan kesadaran manusia menjadi tiga klasifikasi kesadaran, yakni; kesadaran magis, kesadaran naïf, dan kesadaran kritis. Kesadaran magis lebih melihat faktor di luar manusia sebagai penyebab dari penindasan atau ketidak berdayaan manusia. Yang kedua ialah kesadaran naif yang lebih melihat aspek manusia sebagai akar penyebab masalah yang terjadi dalam masyarakat. Sedangkan yang ketiga yakni kesadaran kritis adalah kesadaran yang menjadi kata kunci dan anjuran Freire. Kesadaran kritis bagi Freire adalah kesadaran yang lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah.
Penyadaran bukanlah suatu teknik atau hanya sekedar transfer informasi antara pendidik dan peserta didik, atau pelatihan keterampilan. Akan tetapi penyadaran dengan metode pendidikan saling berhadapan adalah suatu proses pendidikan yang dialogis subjek-subjek yang kemudian akan mengantarkan manusia untuk mampu memecahkan masalah eksistensial mereka. Penyadaran dalam filsafat pendidikan mengemban tugas pembebasan.
Dalam buku termasyhurnya yakni “Pedagogy of Opressed/Pedagogi Pengharapan (yang diterbitkan oleh Kanasius), ia juga melontarkan wacana pembebasan yang didasarkan pada keyakinan transformasi politik dan individu. Freire menekankan bahwa struktur, sistem, atau lembaga penindasan haruslah ditolak. Secara esensial Freire menyatakan bahwa kesadaran kritis terhadap realitas merupakan keharusan bagi tindakan manusia dan transformasi sosial. Bagaimanapun, Freire menekankan bahwa persepsi kritis sangatlah perlu dan hal itu tidaklah mencukupi, karenanya dibutuhkan tindakan praktis dalam pencapaian tujuan pembebasan dan perubahan sosial.
Freire mengingatkan bahwa ; status kekuasaan dan dominasi dari penindas tidak mungkin ada tanpa eksistensi kaum tertindas. Penindas di dehumanisasikan oleh tindakan penindasan yang membutakannya bahwa tindakannya tersebut dapat menghancurkan diri sendiri, sementara yang tertindas didehumanisasikan oleh realitas eksistensial penindasan dan internalisasi bayang-bayang penindas. Konsekuensi logisnya; penindas menyokong keberadaan eksistensial identitas ganda, menurut Freire tugas dari kemanusiaan kaum tertindas adalah haruslah membebaskan dirinya sendiri dan penindas-penindasnya.
Namun Freire juga dalam tulisannya seringkali mewanti-wanti ketika kaum tertindas dapat membebaskan belenggunya agar jangan menjadi seorang penindas baru. Karena Freire melihat seringkali kaum tertindas terlempar menjadi sub-oppreesed dengan mengidentifikasi diri sebagai penindas baru. Pada faktanya penindas dan tertindas merupakan suatu faktisitas atau fakta sosial yang akan selalu ada. Namun, baik humanisasi ataupun dehumanisasi yang sama-sama ada dasein atau eksis, tetapi humanislah yang paling tepat disandang manusia. Karena hanya manusialah yang memiliki sifat demikian, selainnya mungkin bukan manusia.
            Dalam karyanya yakni Pendidikan Kaum Tertindas Freire menyebutkan bahwa sistem pendidikan yang men-dehumanisasikan manusia ia istilahkan dengan Banking education. Berdasarkan atas cara pandang yang mekanis dari kesadaran, pendidikan banking memisahkan peserta didik dari isi dan proses belajar dalam lembaga pendidikan. Model pendidikan banking menurut Freire telah mengasumsikan bahwa; ilmu pengetahuan adalah semacam barang atau uang yang bisa di transfer dari satu orang kepada orang lain, atau ilmu pengetahuan di transfer dari pengajar kepada pengajar. Hal yang demikian telah mengasumsikan secara tidak langsung bahwa; guru adalah layaknya dewa yang tahu segalanya dan murid dipandang sebagai sesuatu yang berdaya dan tidak tahu apa-apa. Model pendidikan seperti ini adalah model pendidikan yang menindas, karena ia telah mendehumanisasikan manusia (siswa-siswi) yang tak pernah diberi kesempatan untuk berdialog. Metode banking dalam pendidikan bisa terlihat jelas dalam dunia pendidikan seperti; Pola guru mengajar hanyalah bercerita, dan siswa hanya mendengarkannya saja.
Transfer informasi ini adalah suatu perlambang instrumen penindasan yang terjadi dalam dunia pedidikan dengan ketidakterbukaannya atas penyelidikan, kreativitas dan dialog siswa-siswi. Konsekuensi logis yang harus dihadapi peserta didik atas system tersebut adalah teralienasinya humanisasi kedalam dehumanisasi.
Terdapat beberapa alasan yang dilontarkan Paulo Freire mengapa pendidikan model banking ini bersifat dehumanisasi. Yakni;
  • Pendidikan model banking cenderung memitologiskan realitas.
  • Menolak dialog
  • Menjadikan siswa sebagai objek yang tidak berdaya
  • Menghalangi kreaivitas
Sebaliknya Paulo Freire mengajukan model pendidikan yang membebaskan. Atau yang ia istilahkan dengan “Problem-posing education”, yang didasarkan pada kesalinghubungan antara pendidik dan peserta didik yang demokratis. Demokratisasi ini merupakan model pendidikan yang mengusulkan dialog dan partnership antara guru dan murid. Bentuk partnership ini tercermin pada model guru sewaktu-waktu sebagai murid, dan muridpun sewaktu-waktu sebagai guru. Hubungan timbal balik seperti ini akan memacu kreativitas siswa dan mendorong munculnya kesadaran kritis bagi peserta didik. Pendidikan model tersebut merupakan pendidikan yang dimulai  dari realitas kehidupan sesaat, maka dengan hal demikian manusia tidak akan teralienasikan pada keidupan dunianya.
                        Menurut Freire, model pendidikan pembebasan haruslah:
  • Memposisikan diri sebagai agen demitologisasi dalam menghadapi masalah
  • Menganggap dialog sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawa-tawar dalam rangka tindakan kognisi yang menyingkap realitas
  • Memotivasi siswa untuk menjadi seorang pemikir yang kritis
  • Berdasar pada kreativitas dan merangsang refleksi seta aksi yang benar terhadap realitas
  • Mengakui historisitas manusia sebagai starting pointnnya
Dari beberapa uraian di atas mengenai model pendidikan yang membebaskan ini dimulai dengan keyakinan bahwa program pendidikan semacam itu haruslah dicari melalui keterbukaan dialog yang intensif dengan masyarakat, maka hal ini mensyaratkan pengenalan pendidikan bagi kaum tertindas, dimana keikutserataan kaum tertindas dapat diutamakan.



BAB IV
KESIMPULAN
            Dalam era Globalisasi Kapitalisme seperti saat ini, pendidikan dihadapkan pada tantangan bagaimana mengkaitkan konteks dan analisis isinya untuk memahami globalisasi secara kritis. Strategi umumnya pendidik lebih tertuju untuk bagaimana membuat kelas mereka relevan terhadap formasi sosial yang dominasi saat ini. Sungguhpun banyak orang pesimis untuk menjadikan pendidikan menjadi alat independen untuk kesadaran kritis dan pembebasan, namun Freire telah memberikan suatu model  yang optimis terhadap pendidikan yang membebaskan. Ia menjelaskan bagaimana landasan teoritik pendidikan sebagai proses transformasi dan pembebasan terutama relasi yang tidak demokratis didalam dunia pendidikan itu sendiri. Ini berarti menggugat watak otoriter dan penjinakan ideologis yang tersembunyi dalam setiap pendidikan. Dengan demikian diperlukan suatu usaha kolaborasi antara guru dan peserta didik juga sesama pesrta didik lainnya untuk secara bersama-sama melakukan transformasi relasi mereka untuk terbebas dari sistem yang menindas. Menuju relasi pendidikan yang kritis, lebih egaliter dan demokratis.

Written by Christian Barly






No comments: