Monday, June 10, 2013

Hegemoni Antonio Gramsci



Bab I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah
Munculnya hegemoni akibat proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah  yang juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.
Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan). Di sini terlihat adanya usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa .
Kelas dominan melakukan penguasaan kepada kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan. Sebagai contoh dalam situasi kenegaraan, upaya kelas dominan (pemerintah) untuk merekayasa kesadaran kelas bawah (masyarakat) adalah dengan melibatkan para intelektual dalam birokrasi pemerintah serta intervensi melalui lembaga-lembaga pendidikan dan seni.

I.2 Rumusan Masalah
v  Dengan Teori Hegemoni, apa yang hendak didekonstruksi oleh Gramsci?






Bab II
Acuan Teoretik

II.1 Tentang Tokoh
Gramsci dikenal sebagai penulis sekaligus teoritikus. Termasuk pula, pemikirannya mengenai teori Marxis, teori kritis dan teori lain mengenai pendidikanAntonio Gramsci lahir di Ales, sebuah kota kecil di Sardinia, daerah miskin di Italia, pada 22 Januari 1891. Latar belakang pendidikan yang cukup dikenal, bahwa Gramsci memasuki perguruan tinggi setelah memenangkan beasiswa di Universitas Turin tahun 1911.Itulah tahun-tahun di mana dia banyak membaca dan belajar pemikiran filosof idealis Benedetto Croce—filosof paling berpengaruh terhadap pemikiran Marxisme di Italia yang kelak banyak mempengaruhi Gramsci.Sejak menjadi mahasiswa minatnya dalam bidang politik dan aktivitas gerakan sosial berkembang, terutama gerakan kaum buruh, dan mendorongnya bergabung dengan Partai Sosialis Italia.
Kehidupan Gramsci sebagai aktivis membentuk kepribadiannya, dan minatnya untuk menekuni bidang media massa, kebudayaan, dan kritik ideology semakin kokoh—bahkan ia mengembangkan pemikiran dan konsepsi ideologi dan konter terhadap ideologi dominan yang dikembangkan oleh negara. Pernah pada 1922 dia harus hijrah ke Rusia untuk memperjuangkan bagaimana watak demokratis paham Sosialisme harus diterapkan.Namun, tahun 1924 dia kembali ke Italia, dan melakukan berbagai usaha untuk melakukan perubahan dan upaya transformasi terhadap Partai Komunis. Gramsci kemudian berhasil mengembangkan partai Komunis menjadi partai yang berakar pada gerakan massa.
Tahun 1928 dijatuhi hukuman 20 tahun penjara oleh pemerintah fasis Mussolini.Pemenjaraan Gramsci oleh Mussolini sebenarnya dimaksudkan untuk membungkam Gramsci.Namun, justru di dalam penjara inilah Gramsci menuliskan pemikiran-pemikiran briliannya, mulai pemikiran tentang peran intelektual, hegemoni, negara dan civil society (masyarakat sipil).Semua pemikirannya dituliskan dalam catatan hariannya di bawah ketatnya pengawasan negara dan dalam suasana pesakitan yang luar biasa.Akhirnya Gramsci berhasil menulis sebanyak 34 buku catatan harian yang nantinya diterbitkan dalam bentuk buku yang terkenal dengan The Prison Notebooks.Dan pada 27 April 1937 Gramsci meninggal dunia di kamar penjaranya di Turin.Untunglah, catatan-catatan harian Gramsci itu diselundupkan Tatiana dan dikirimkan ke Moskow melalui saluran diplomatik. Dari catatan harian itulah akhirnya diketahui secara luas pikiran-pikiran revolusioner Gramsci.
Gramsci hidup pada masa kehancuran revolusi sosial di Eropa Barat 1918-1923, dan menyaksikan organisasi buruh dan gerakan sosialis dihancurkan oleh fasisme pada 1922-1937. Ia menyaksikan betapa kuatnya komitmen sebagian besar masyarakat untuk menegakkan negara modern kendati tengah menghadapi krisis ketika mereka kehilangan harapan di dalamnya. Anehnya, mereka merasa memperoleh solusi dalam fasisme dan bukan dalam rezim sosialisme.
Dari fenomena ini Gramsci tertarik untuk melihat bagaimana sesungguhnya kekuasaan itu harus ditegakkan. Melalui catatan hariannya dalam penjara, The Prison Notebooks, ia  mempertanyakan mengapa dan bagaimana negara modern menikmati konsensus, serta mengapa dan bagaimana kaum sosialis  menjamin konsensus itu dijadikan dasar bagi tumbuhnya konsensus baru di tengah-tengah nilai sosialis.
Dari latar belakang historis semacam itu Gramsci merasa menemukan masalah yang tidak memperoleh jawaban dalam analisis Marx. Meski tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi Marxian, karena ia masih percaya masyarakat kapitalisme selalu melahirkan kontradiksi di dalamnya, ia kemudian mencari jawabannya sendiri dengan mendasarkan kepada karya-karya Labriola, Sorel dan Croce—dan berhasil mempersembahkan teori politik dalam  hal ini bagaimana kekuasaan bekerja di dalam negara modern. Ia memasuki analisisnya antara lain dengan memberikan kritik terhadap kegagalan prediksi Marx. Bukti kegagalan revolusi sosialisme lantaran tidak terjadi revolusi kaum buruh, telah mematahkan argumentasi Marx yang dinilainya deterministik, fatalistik, dan mekanistik.
Gramsci mengakui ada keteraturan sejarah, tetapi ia tidak berjalan secara otomatis dan bukan tak terelakkan. Perkembangan sejarah terjadi karena tumbuh kesadaran massa terhadap situasi dan sistem yang dihadapi. Oleh karena itu, massa harus bergerak untuk melakukan revolusi, dan hal ini dapat terjadi bila massa memiliki kesadaran terhadap realitas atau sistem yang dihadapi. Tekanan struktural, terutama ekonomi, diakui memang ada, tetapi ia bukan penyebab bagi massa bangkit untuk membangun revolusi.
Dalam hal ini, yang dibutuhkan adalah revolusi ideologi. Namun, revolusi ideologi ini tidak akan muncul dari massa, melainkan harus didorong oleh kelas intelektual yang sadar, karena memang di mata Gramsci, massa pada dasarnya tidak memiliki apa yang ia sebut dengan self-consciousness. Meski demikian, begitu memperoleh dorongan dari ide elite, massa diyakini Gramsci akan memungutnya dan menjadikannya sebagai dasar melakukan gerakan revolusi.
Dari ranah makro (subjektif) Gramsci mempersoalkan ide kolektif dan bukan struktur sosial. Di sini Gramsci memperlihatkan kecenderungannya kepada perspektif Hegelian ketimbang Marx sendiri. Dalam hal ini, ia mengungkapkan kata kunci Hegemoni – yaitu sebuah sistem pemerintahan suatu negara yang didasarkan pada pembentukan atau pembinaan konsensus melalui kepemimpinan budaya.
Praktik hegemoni dilakukan secara terus menerus terhadap kekuatan oposisi untuk mau memilih sikap konformistik, sehingga menimbulkan disiplin diri untuk menyesuaikan dengan norma-norma yang diputuskan oleh negara dengan keyakinan bahwa apa yang telah diputuskan negara tersebut merupakan cara terbaik untuk bertahan (survive) dan meraih kesejahteraan. Gramsci hendak memperlihatkan peran kaum intelektual yang bekerja atas nama kapitalisme dengan menempuh kepemimpinan budaya dengan persetujuan massa. Kepemimpinan budaya harus hadir jika ingin revolusi berhasil, karena menurutnya revolusi tidak cukup dilakukan dengan cara menguasai ekonomi dan aparatur negara—tidak seperti pandangan Marx (Ritzer 2004:148).


II.2 Konsep Dasar Pemikiran Tokoh
                 Gramsci dipandang banyak pihak sebagai pemikir Marxis paling penting di abad ke-20, khususnya sebagai pemikir kunci dalam perkembangan Marxisme Barat. Ia menulis lebih dari 30 buku
catatan dan 3000 halaman sejarah dan analisis selama di penjara. Tulisan-tulisan ini, yang kemudian dikenal luas sebagai Buku Catatan Penjara (Prison Notebooks), berisi penelusuran Gramsci terhadap sejarah dan nasionalisme Italia, selain pemikiran mengenai teori Marxis, teori kritis dan teori pendidikan yang berkaitan dengan dirinya, seperti:
  • Hegemoni Budaya sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan negara kapitalis
  • Pentingnya pendidikan buruh populer untuk mendorong perkembangan intelektual dari kelas pekerja
  • Pemisahan antara masyarakat politis (polisi, tentara, sistem legal, dsb) yang mendominasi secara langsung dan koersif, danmasyarakat sipil (keluarga, sistem pendidikan, serikat perdagangan, dsb) di mana kepemimpinan dikonstitusionalisasi melaluiideologi
  • 'Historisisme Absolut'
  • Kritik determinisme ekonomi
  • Kritik materialisme filosofis






Bab III
Pembahasan
III.1 Tema/ Isu Utama
Pemikiran penting Gramsci adalah tentang hegemoni. Konsep hegemoni memang dikembangkan Gramsci atas dasar dekonstruksinya terhadap konsep-konsep Marxis ortodoks (yang menerima doktrin Marx sebagai kebenaran mutlak). Gramsci, sebagaimana teoretikus kontemporer seperti Terry Eagleton, Fredrick Jameson, dan Mikhail Bakhtin, menganggap Marx tak lebih hanya sebagai sumber inspirasi—untuk melakukan dekonstruksi.
Istilah Hegemoni dalam tradisi Marxisme diperluas ke arah pengertian hubungan kekuasaan di antara kelas-kelas sosial, khususnya kelas yang berkuasa (ruling class). Dengan demikian, baik dalam Marxisme maupun tradisi sebelumnya, istilah hegemoni digunakan untuk menjelaskan fenomena kekuasaan politik. Meskipun demikian, Gramsci mengembangkan pengertian hegemoni secara lebih luas, yaituHegemoni berarti memimpin, kepemimpinan, kekuasaan yang melebihi kekuasaan yang lain. Jadi secara leksikografis hegemoni berarti kepemimpinan. Proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan.Di sini penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.
Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan). Di sini terlihat adanya usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa .
Dengan demikian mekanisme penguasaan masyarakat dominan dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kelas dominan melakukan penguasaan kepada kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan. Sebagai contoh dalam situasi kenegaraan, upaya kelas dominan (pemerintah) untuk merekayasa kesadaran kelas bawah (masyarakat) adalah dengan melibatkan para intelektual dalam birokrasi pemerintah serta intervensi melalui lembaga-lembaga pendidikan dan seni.
Dengan dimasukkannya unsur kepemimpinan dan persetujuan dari kelompok yang dihegemoni, maka konsep hegemoni dianggap lebih kompleks dibandingkan dengan ideologi. Dalam hegemoni terkandung ideologi, tetapi belum tentu sebaliknya. Unsur represif lebih jelas dalam hegemoni.
Jadi, Gramsci mengubah makna hegemoni dari strategi menjadi sebuah konsep—seperti halnya konsep Marxis tentang kekuatan dan hubungan produksi, kelas dan negara—menjadi sarana untuk mengubahnya. Ia mengembangkan gagasan tentang kepemimpinan dan pelaksanaannya sebagai syarat untuk memperoleh kekuasaan negara ke dalam konsepnya tentang hegemoni.  Bagi Gramsci, hegemoni merupakan hubungan antara kelas dengan kekuatan sosial lain. Kelas hegemonik, atau kelompok kelas hegemonik, adalah kelas yang mendapatkan persetujuan dari kekuatan dan kelas sosial lain dengan cara menciptakan dan mempertahankan sistem aliansi melalui persetujuan politik dan ideologis. Konsep ideologis dibangun dengan memasukkan beberapa konsep lain yang berkaitan dengannya, yakni hubungan kekuatan ekonomi-korporatif/hegemonik, nasional kerakyatan, revolusi pasif, revolusi intelektual dan moral, pemikiran awam, masyarakat sipil, blok historis, dan watak kekuasaan.
Terkait dengan ekonomi korporatif, Gramsci melihat, bahwa ide tentang pembangunan system aliansi merupakan tema sentral dari konsep hegemoni. Baginya, kelas pekerja hanya dapat menjadi kelas hegemonic dengan memperhatikan berbagai kepentingan dari kelas dan kekuatan sosial yang lain serta menemukan cara untuk mempertemukannya dengan kepentingan mereka sendiri.  Kepentingan bukan hanya kepentingan lokal, melainkan juga kesiapan memubuat berbagai konsensus agar dapat mewakili semua kelompok kekuatan sosial yang besar. Jadi hubungan antara dua kelas utama (yakni pemodal dan buruh) bukan  merupakan hubungan pertentangan sederhana antara dua kelas, melainkan hubungan kompleks yang melibatkan kelas-kelas dan kekuatan-kekuatan lainnya. Masing-masing pihak berusaha keras memperkuat aliansinya sendiri, memecahbelah aliansi kelompok lain, dan mengubah perimbangan kekuatan demi kepentingan kelompoknya.
III.2 Dampak Pemikiran Tokoh Terhadap Kehidupan
Berdasarkan pemikiran Gramsci tersebut dapat dijelaskan bahwa hegemoni merupakan suatu kekuasaan atau dominasi atas nilai-nilai kehidupan, norma, maupun kebudayaan sekelompok masyarakat yang akhirnya berubah menjadi doktrin terhadap kelompok masyarakat lainnya dimana kelompok yang didominasi tersebut secara sadar mengikutinya. Kelompok yang didominasi oleh kelompok lain (penguasa) tidak merasa ditindas dan merasa itu sebagai hal yang seharusnya terjadi. jika direfleksikan ke dalam kehidupan sosial-politik di Indonesia saat ini, maka saya mencoba mengambil contoh adanya ‘pasar modern ‘ yang marak saat ini dan menyebar hampir keseluruh wilayah di Indonesia. Pasar modern ini contohnya ada berbagai macam, diantaranya yang saya tahu adalah mini market (Alfamart,Indomaret, dsb) lalu adanya Mall yang dekat dengan rumah saya yaitu Metropolitan Mall, Giant, Bekasi Cyber Park, Bekasi Square, dsb. Serta makin maraknya bisnis waralaba yang ada dan datang dari Barat seperti KFC, McDonald, CFC, A&W, dsb.









Bab IV
Penutup
-KESIMPULAN-
Jadi, Hegemoni Gramscian mengandung ide-ide tentang usaha untuk mengadakan dekonstruksi tentang Marxisme yaitu  perubahan sosial secara radikal dan revolusioner. Teori hegemoni secara tidak langsung menolak reduksi manusia, termasuk narasi kecil, menolak konsep-konsep yang menjunjung tinggi kebenaran mutlak, baik yang terkandung dalam Marxisme maupun non-Marxisme. Gramsci menolak teori Marxisme (dengan determinisme mekanis-nya) bahwa struktur dasar, sebagai infrastruktur material, secara monolitis dapat menentukan superstruktur ideologisnya, dan kebudayaan pada umumnya. Menurut Gramsci, determinisme mekanis seperti ini cenderung menimbulkan sikap pasif sebab kaum buruh akan menunggu perubahan dalam bidang ekonomi, dan sikap ini jelas memperlemah timbulnya inisiatif-inisiatif yang baru.



Referensi


(n.d.). Retrieved February 16, 2013, from anshar-mtk.blogspot.com/2012/10/filsafatkontemporer
liarkanpikir. (2011, October 15). Retrieved May 1, 2013, from http://liarkanpikir.wordpress.com/2011/10/15/teori-hegemoni-menurut-gramsci/
Wikipedia. (2011, April 5). Retrieved May 1, 2013, from Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Antonio_Gramsci
Khoiri, M. (2011, January 30). My-E Learning Class. Retrieved May 1, 2013, from A Corporation to Creative Works: http://mye-learningclass.blogspot.com/2011/01/antonio-gramsci-dan-konsepteori.html

No comments: