Monday, April 22, 2013

Friedrich Nietzsche dan Nihilisme


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Tidak diketahui kapan tepatnya revolusi industri dimulai. Ada yang berpendapat bahwa revolusi industri dimulai sejak Abad Pencerahan, bahkan ada juga yang berpendapat sejak masa Yunani. Namun menurut informasi yang didapatkan, secara umum pendapat yang dikemukakan adalah bahwa Revolusi industri pertama kali terjadi di Inggris pada tahun 1760. Revolusi industri adalah suatu perubahan secara cepat dari ekonomi pertanian ke ekonomi industri. Sedangkan di Perancis, revolusi terjadi ketika kaum revolusioner menyerbu penjara Bastille pada tahun 1789. Latar belakang dibalik revolusi industri di Inggris dan revolusi di Perancis terjadi di berbagai bidang kehidupan sehari-hari di Inggris serta Perancis, yaitu dalam bidang ekonomi, politik, sosial, iptek maupun budaya. Ada juga yang berpendapat bahwa di Inggris, yang membuat revolusi industri pertama kali muncul adalah penemuan dari James Watt yang terjadi pada tahun 1763. Sebuah penemuan teknologi mesin yang dilakukan sebenarnya hanya sebuah modifikasi dari penemuan seorang penemu lain, yakni Thomas Newcomen yang dianggap boros bahan bakar namun tenaganya berskala kecil. Sejak saat itu, pada tahun-tahun berikutnya, banyak sekali penemuan-penemuan lain yang dilakukan oleh para ilmuwan yang kemudian dianggap sebagai bapak dari barang temuannya tersebut.
Sedangkan di Perancis, hal-hal yang melatarbelakangi revolusi disana adalah kondisi politik, ekonomi dan sosial yang tidak seimbang. Seperti misalnya dalam bidang sosial, di Perancis terjadi kesenjangan sosial yang menimbulkan tingkatan golongan kehidupan yang tidak bisa diganggu gugat saat itu. Dari golongan petani yang tidak mendapatkan hak-hak istimewa, sampai golongan ulama gereja Katholik.
Revolusi industri di Inggris dan kemudian revolusi Perancis menumbuhkan cara pandang baru manusia tentang Tuhan, dunia, manusia sendiri maupun semua yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Filsafat juga hadir secara baru. Descartes mendahului dengan cogito ergo sum-nya yang kemudian memunculkan filsafat modern. Setelah Descartes, muncul lagi seorang nabi di dunia filsafat yang meramalkan runtuhnya hegemoni kekristenan di Eropa. Dialah Friedrich Wilhelm Nietzsche. Siapakah dia? Kami akan menjelaskan selengkapnya di halaman selanjutnya.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa hubungan antara konsep yang dibawa oleh Friedrich Wilhelm Nietzche dengan Nihilisme?
2.      Apakah dampak dari istilah “Gott ist Tot” terhadap kehidupan masyarakat?



BAB 2
ACUAN TEORITIK
2.1    Tokoh aliran
Nietzshe atau yang memiliki nama lengkap Friedrich Wilhelm Nietzshe ini lahir di Röcken, Jerman, pada tanggal 15 Oktober 1844 dan meninggal di Weimar, tanggal 25 Agustus 1900 M. Orangtua Nietzshe adalah seorang pendeta Lutheran yang bernama Carl Ludwig Nietzshe (1813-1849). Nietzshe diberi nama tersebut untuk menghormati kaisar Prusia Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama dengannya. Setelah kematian ayah dan adik laki-lakinya yang bernama Ludwig Joseph (1848-1850), keluarga Nietzshe pindah ke Naumburg dekat Saale.  Ia dididik dalam suasana penuh kelembutan dan kemanjaan dari ibu dan saudara perempuannya. Ia merupakan seorang yang lembut dan mempunyai hobi membaca, terutama injil. Hidupnya banyak dirundungi kemalangan, namun ia tidak pernah sedikitpun mengeluh, sebagaimana semboyannya yang terkenal “ Amor Fati “. Dalam perjalanan akademisnya ia banyak berkenalan dengan orang-orang besar yang kelak akan banyak memberikan pengaruh terhadap pemikirannya, seperti Scopenhauer, Johan Goethe, Richard Wagner, dan Fredrich Ritschl. Karir akademis bergengsi yang pernah didudukinya ialah menjadi profesor filologi di Basel University, yang ia dapatkan ketika ia berusia dua puluh tahun.[2] Ketika kesehatannya mulai memburuk, ia melepaskan jabatannya ini. Ia mengembara  ke tempat yang tenang untuk menyelesaikan karya-karyanya.
Menjelang akhir hidupnya, ia dirawat di rumah sakit jiwa. Setelah ibunya meninggal, ia dirawat oleh saudaranya, Elizabeth. Ia sangat sedih dan prihatin melihat kondisi Nietzsche, bahkan Nietzsche sendiri sudah tidak menyadari akan kebesaran namanya. Pada usia 46 tahun, tanggal 25 Agustus 1900, setelah 11 tahun menderita sakit jiwa, rajawali kaum filsuf ini mengehembuskan nafas terakhirnya di Weimar. Ia meninggalkan nama besar dan karya-karya yang sampai saat ini tidak usang untuk dinikmati berulang-ulang. Oleh Nietzshe, sejarah filsafat diperkaya dengan halaman-halaman baru, segar, ganas, gemilang, dan gila.
Berikut merupakan beberapa karya penting yang ditulis oleh Friedrich Nietzshe:
a.       1872: Die Geburt der Tragödie (Kelahiran Tragedi)
b.      1873-1876: Unzeitgemässe Betrachtungen (Pandangan Non-Kontemporer)
c.       1878-1880: Menschliches, Allzumenschliches (Manusiawi, Terlalu
Manusiawi)
d.      1881: Morgentröthe (Merahnya Pagi)
e.       1882: Die fröhliche Wissenschaft (Pengetahuan Jenaka)
f.       1883-1885: Also sprach Zarathustra (Begitulah Sabda Zarathustra)
g.      1886: Jenseits von Gut und Böse (Melampaui Kebajikan dan Kejahatan)
h.      1887: Zur Genealogie der Moral (Mengenai Silsilah Moral)
i.        1888: Der Fall Wagner (Hal perihal Wagner)
j.        1889: Götzen-Dämmerung (Menutupi Berhala)
k.      1889: Der Antichrist (Sang Antikristus)
l.        1889: Ecce Homo (Lihat Sang Manusia)

2.2    Konsep dasar
Will to power  mengarah kepada diri manusia dimana definisinya adalah prinsip seluruh kehidupan manusia dipakai untuk menerangkan dorongan hidup Yunani kuno sehingga menghasilkan kebudayaan tinggi.  Will to power disini dibagi 3 bagian oleh Nietzche :
1.      WORLD & WILL TO POWER - Beyond Good and Evil
Konsep ini banyak mendapat pengaruh dari Schopenheur. Bagi Nietzche, dunia adalah fenomena yaitu satu-satunya kenyataan sejati dari segala sesuatu maka tidak ada maya maupun metafisika. maka satu-satunya prinsip menafsirkan dunia yaitu melalui dunia fenomena. Ia membuang dunia nomena karena tiada memancarkan ' will to power'.
2.      LIFE & WILL TO POWER - Will To Power
Definisi hidup dari Nietzche adalah sejumlah kekuatan yang disatukan oleh suatu proses pemeliharaan untuk mengakhiri kekuatan sebelumnya. Manusia dan binatang sama-sama punya kekuatan yang disatukan oleh proses pemeliharaan tapi manusia punya kelebihan yaitu potensi mengatasi dirinya sendiri dan memiliki tujuan hidup maka inilah ciri hidup manusia yang menghasilkan kebahagiaan yaitu UBERMENCH. UBERMENCH adalah semacam manusia ideal yang dapat merealisasikan semua kemungkinan untuk memperoleh kebahagiaan melalui kekuasaan  dan perang terhadap sesamanya. Jadi, Nietzche berusaha menciptakan monster bertubuh manusia yang egois untuk menaklukkan dunia seperti TERMINATOR.
3.      WILL & WILL TO POWER - The Genealogy of Moral
Suatu kritik Nietzche terhadap orang kristen khususnya moralitas, bahwa sebenarnya moralitas orang kristen berasal dari kebencian dan kebahagiaan lahir dari reaksi kelemahan mereka. Kedua, setiap manusia memiliki suara hati dan orang kristen percaya suara hati adalah suara Allah dalam hati manusia tapi bagi Nietzche itulah naluri kekejaman. Ketiga, Manusia punya cita-cita bagaimana mereka hidup sesuai kehendak Tuhan. Bagi Nietzche, itu justru cita-cita yang merusak kehidupan sebenarnya dan membuat orang kristen jadi penakut karena takur terhadap ' meaningless'. Nietzche punya mimpi manusia memiliki moralitas seperti Yunani, Persia, Yahudi dan Jerman, dengan ' will to power ' diciptakan untuk melindungi masyarakat dan masyarakat hidup dalam ketaatan tapi apakah bisa terlaksana ? problemnya bisa lahir individu-individu seperti Nietzche lagi yang punya hasrat serupa melawan tradisi yang sudah mapan. Dalam hal ini Nietzche lupa siapa dirinya sebenarnya.
Konsep ini membuat Nietzsche bisa dikategorikan sebagai seorang pemikir yang naturalistic (Naturalistic Thinker), yakni yang melihat manusia tidak lebih dari sekedar insting-insting alamiahnya (natural instincts) yang mirip dengan hewan, maupun mahluk hidup lainnya. Nietzsche dengan jelas menyatakan penolakannya pada berbagai konsep filsafat tradisional, seperti kehendak bebas (free will), substansi (substance), kesatuan, jiwa, dan sebagainya.
                                               


BAB 3
PEMBAHASAN
3.1              Isu Utama Pemikiran Friedrich Nietzsche
Sebelumnya, Nietzsche telah mendapatkan inspirasi dari karya Arthur Schopenhauer, mengenai konsep the will to life. Schopenhauer, yang menulis satu generasi sebelum Nietzsche, menjelaskan bahwa alam semesta beserta seluruh isinya ini digerakkan oleh hasrat untuk hidup. Hasrat itulah yang terdapat pada semua makhluk hidup untuk menolak kematian dan menghasilkan ciptaan yang bermakna.
Selain itu Nietzsche juga membaca  buku karya Albert Lange yang berjudul Geschichte des Materialismus (History of Materialism) yang terbit tahun 1865. Nietzsche membaca buku itu pada tahun 1866.  Pada awal tahun 1872 Nietzsche mempelajari buku Boscovitch yang berjudul Theoria Philosophia Naturalis. Nietzsche mulai berbicara tentang desire for power (Machtgelust) dalam tulisannya yang berjudul  The Wanderer and his Shadow (1880) dan Daybreak (1881).
Dalam tulisan itu, Machtgelust dimaknakan sebagai “the pleasure of the feeling of power and the hunger to   to over power. Alkisah, terbitlah  karya Wilhelm Roux, The Struggle of Parts in the Organism (Der Kamf der Theile im Organismus), pada tahun 1881. Nietzsche membacanya pada tahun itu juga. Buku itu merupakan tanggapan terhadap teori Darwinian. Tujuannya menawarkan teori evolusi yang berbeda dari Charles Darwin. Roux adalah mahasiswa dari dan terpengaruh oleh pemikir terkenal Ernst Haeckel, yang meyakini bahwa perjuangan untuk hidup sudah dimulai pada taraf cellular.
Nietzsche mulai mengembangkan konsep Machtgelust dalam tulisanntya, The Gay of Science (1882). Dalam bagian tulisannya yang berjudul “On the Doctrine of the feeling of power” ia menghubungkan kehendak atau hasrat untuk kekejaman dengan feeling of power. Dalam The Gay of Science Nietzsche banyak menekankan bahwa hanya pada makhluk intelektual terdapat pleasure, displeasure, dan hasrat.
Tahun 1883 Nietzsche mengukuhkan konsep The Will to Power (Wille zur Macht) dalam karyanya yang berjudul Thus Spoke Zarathustra. Kini konsep itu tidak lagi terbatas hanya berlaku terhadap segala makhluk intelektual, tetapi juga berlaku pada semua makhluk hidup. Selalu ada the will to power di mana ada kehidupan. Sehingga, Nietzsche pun  sampai kepada pernyataan bahwa “world is the will to power – and nothing beside”.
Setelah melewati proses bertahap, konsep Shopenhauer “will to live” menjadi jauh tertinggal dibanding konsep Nietzsche “The Will to Power”. Menurut Nietzsche Shopenhauer tidak mengerti sejatinya apa itu the will to power, sebab Schopenhauer hanya mendengar dari orang lain saja. Hasrat untuk Berkuasa, kata Nietzsche, jauh lebih kuat dibanding the will to life. Tanpa the will to power manusia bukan apa-apa lagi.
The will to power adalah sebuah konsep penting yang paling melekat erat diantara beberapa tulisan dari Nietzsche.  Berkesimpulan, bahwa alam semesta dikendalikan oleh kehendak buta. Nietzche dalam study mencari gagasan Yunani kuno telah menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong peradapan semata-mata adalah langkah untuk mencari kekuatan tertinggi (absolute) dalam mencari sebuah kekuasaan. Hal ini di pertegas Nietzsche yang tertulis dalam buku terjemahan karya Walter Kaufman, dan R.J. Hollingdale sebagai berikut:
Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa – dan tidak ada yang lainnya! Kaulah sendiri yang menjadi kehendak untuk berkuasa ini – dan tidak ada lagi yang lainnya!

3.2               Konsep Nietzsche Dengan Nihilisme
Nihilisme merupakan sebuah paham, dari kata kerja ANNIHILATE, artinya meniadakan,
membasmi, memusnahkan, menghapuskan, melenyapkan segenap eksistensi.
Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.
Menurut beberapa narasumber yang mengkritisi filsafat ini, Nihilisme merupakan salah satu konsep dari Nietzsche.  Dan konsep ini dipeluk oleh orang-orang yang memahami bahwa realitas yang ada di alam ini hanyalah keburukan. Mereka beranggapan bahwa fenomena-fenomena yang ada pada manusia tidak lain adalah kemalangan, penderitaan, kemiskinan dan kehancuran.
3.3              “The Death of God”
Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang ‘kebenaran’ atau dikenal dengan istilah  filsafat perspektivisme. Beliau juga dikenal dengan julukan ‘sang pembunuh Tuhan’  (dalam Also Sprach Zarathustra) . Nietzsche mengkritisi kebudayaan barat di zamannya yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan.  Dan dikatakan bahwa kematian Tuhan dan paradigm kehidupan setelah kematian Tuhan tersebut tidak menjadikan filosofi Nietzsche menjadi sebuah filosofi nihilisme. Namun, sebaliknya filosofi yang dikemukakan oleh Nietzsche ini adalah filosofi untuk menaklukkan nihilisme (Űberwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung) dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Űbermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).
Sebuah ungkapan yang sering dikutip dari Friedrich Nietzsche adalah “Tuhan sudah mati” yang muncul pertama kali dalam The Gay Science, seksi 108 (New Strunggles), dalam seksi 125 (The Madman), dan untuk ketiga kalinya dalam seksi 343 (The Meaning of Our Cheerfulness). Dalam The Madman dinyatakan sebagai berikut:
“Tuhan sudah mati, dan Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, apa perlu permainan-permainan suci yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu (pembunuhan Tuhan)?”
Namun ungkapan seperti itu tidak boleh ditanggapi secara harfiah, bahwa secara fisik Tuhan kini sudah mati (karena Tuhan tidak mati dan tak pernah mati). Inilah cara Nietzsche mengatakan gagasan bahwa Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teologi.



BAB 4
KESIMPULAN
1.      Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa nihilisme adalah konsep Nietzsche, yang mengatakan bahwa dunia ini terutama keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain. Namun pandangan lain mengatakan bahwa konsep yang disampaikan oleh Nietzsche mengenai kematian tuhan itu bukanlah menjadi sebuah filosofi nihilisme, namun sebaliknya menjadi sebuah filosofi yang menaklukkan nihilisme. Bila dilihat, antara will to power dan nihilisme tidaklah sama, namun saling berkaitan. Nihilisme yang mengatakan keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan sedikit dibantah oleh Nietzsche yang mengatakan bahwa manusia memiliki kekuatan untuk berkuasa.
2.      Istilah “Gott Ist Tot” banyak digunakan  dalam kehidupan masyarakat dan rata-rata dibidang seni.
a.       “Dio è morto” (Tuhan sudah mati, bahasa Italia) adalah judul dari sebuah nyanyian Italia terkenal yang ditulis oleh pengarang lagu Francesco Guccini yang menjadi hit bagi band Italia Nomadi pada 1965.
b.      “Tuhan sudah mati” juga merupakan sebuah lagu instrumental Midtown dalam album 2004 mereka Forget What You Know (Lupakan yang Anda Tahu).
c.       Ungkapan “Gott Ist Tot” digunakan dalam lagu “Willst du Hoffnung?” (Anda menginginkan pengharapan) dan “Der neue Gott” (Tuhan yang baru) oleh kelompok Jerman OOMPH!.
d.      Drama televisi The Second Coming (TV) berakhir dengan Tuhan yang sedang sekarat, dengan maksud menakut-nakuti umat manusia agar mereka bersungguh-sungguh menjalani kehidupan mereka dengan baik dan menyingkirkan hukuman kekal di neraka.










BAB 5
REFERENSI

 

Maksum, A. (2008). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
RayaCultura. (n.d.). sastra-politik-dan-kuasa. Retrieved 03 19, 2013, from http://www.rayakultura.net.
Riyana, C. (n.d.). Retrieved 03 19, 2013, from http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/197512302001121-CEPI_RIYANA/06_Filsafat_Nihilisme.pdf
Santoso, D. (n.d.). daniel_santoso/reflection. Retrieved 03 19, 2013, from http://members.tripod.com.
Wattimena, R. A. (2011, 12 16). manusia-dan-kehendak-untuk-berkuasa. Retrieved 03 19, 2013, from http://rumahfilsafat.com.

No comments: