Showing posts with label Filsafat. Show all posts
Showing posts with label Filsafat. Show all posts

Sunday, June 16, 2013

Pendidikan Kritis - Berkesadaran Paulo Freire


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

            Pendidikan merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam perkembangan kehidupan masyarakat. Pada awalnya setiap orangtua siswa-siswi berharap kelak anak-anaknya akan menjadi orang yang mandiri dan tegar dalam menghadapi kehidupan dengan jalan memasukannya ke sebuah lembaga pendidikan. Pada dasarnya pendidikan adalah manifestasi kehidupan. Proses pendidikan adalah proses pemanusiaan manusia untuk menjadi manusia yang se-utuhnya. Namun yang terjadi ternyata  tidak berjalan selaras pada kenyataan yang diharapkan(khususnya di Negara Indonesia). Pendidikan yang seharusnya menciptakan manusia yang mandiri dan mampu berkata ”ya pada kehidupan” dengan terpeliharanya “kehendak untuk berkuasa” ternyata telah mengalami dehumanisasi yang membuat manusia malah menjadi lemah dan tidak berdaya dalam kehidupan serta asing dengan dunianya. Ketidakmampuan dan ketidakberdayaan ini tercermin pada fenomena antrian beribu-ribu penganggur yang mengajukan lamaran pekerjaan, dan hal ini terjadi secara rutin dari tahun ke tahun, mereka berbondong-bondong membawa ijazah yang menjadi tumpuan dan harapan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang diharapnya.
Manusia adalah penguasa atas dirinya, dan telah menjadi ciri khas tersendiri bagi manusia bahwa ia mampu mengatasi masalahnya sendiri dengan “kehendak untuk berkuasa” yang dimilikinya. Dan oleh karena itu keinginan seorang manusia adalah merdeka dan bebas. Hal yang seperti inilah yang diupayakan oleh Paulo Freire untuk memperjuangkan pendidikan yang humanis, pendidikan yang tidak merendahkan kemanusiaan


Monday, June 10, 2013

Hegemoni Antonio Gramsci



Bab I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah
Munculnya hegemoni akibat proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah  yang juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Penguasaan dilakukan tidak dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang dikuasai.
Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan). Di sini terlihat adanya usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa .
Kelas dominan melakukan penguasaan kepada kelas bawah menggunakan ideologi. Masyarakat kelas dominan merekayasa kesadaran masyarakat kelas bawah sehingga tanpa disadari, mereka rela dan mendukung kekuasaan kelas dominan. Sebagai contoh dalam situasi kenegaraan, upaya kelas dominan (pemerintah) untuk merekayasa kesadaran kelas bawah (masyarakat) adalah dengan melibatkan para intelektual dalam birokrasi pemerintah serta intervensi melalui lembaga-lembaga pendidikan dan seni.

Monday, April 22, 2013

Friedrich Nietzsche dan Nihilisme


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Tidak diketahui kapan tepatnya revolusi industri dimulai. Ada yang berpendapat bahwa revolusi industri dimulai sejak Abad Pencerahan, bahkan ada juga yang berpendapat sejak masa Yunani. Namun menurut informasi yang didapatkan, secara umum pendapat yang dikemukakan adalah bahwa Revolusi industri pertama kali terjadi di Inggris pada tahun 1760. Revolusi industri adalah suatu perubahan secara cepat dari ekonomi pertanian ke ekonomi industri. Sedangkan di Perancis, revolusi terjadi ketika kaum revolusioner menyerbu penjara Bastille pada tahun 1789. Latar belakang dibalik revolusi industri di Inggris dan revolusi di Perancis terjadi di berbagai bidang kehidupan sehari-hari di Inggris serta Perancis, yaitu dalam bidang ekonomi, politik, sosial, iptek maupun budaya. Ada juga yang berpendapat bahwa di Inggris, yang membuat revolusi industri pertama kali muncul adalah penemuan dari James Watt yang terjadi pada tahun 1763. Sebuah penemuan teknologi mesin yang dilakukan sebenarnya hanya sebuah modifikasi dari penemuan seorang penemu lain, yakni Thomas Newcomen yang dianggap boros bahan bakar namun tenaganya berskala kecil. Sejak saat itu, pada tahun-tahun berikutnya, banyak sekali penemuan-penemuan lain yang dilakukan oleh para ilmuwan yang kemudian dianggap sebagai bapak dari barang temuannya tersebut.
Sedangkan di Perancis, hal-hal yang melatarbelakangi revolusi disana adalah kondisi politik, ekonomi dan sosial yang tidak seimbang. Seperti misalnya dalam bidang sosial, di Perancis terjadi kesenjangan sosial yang menimbulkan tingkatan golongan kehidupan yang tidak bisa diganggu gugat saat itu. Dari golongan petani yang tidak mendapatkan hak-hak istimewa, sampai golongan ulama gereja Katholik.
Revolusi industri di Inggris dan kemudian revolusi Perancis menumbuhkan cara pandang baru manusia tentang Tuhan, dunia, manusia sendiri maupun semua yang berkaitan dengan dirinya sendiri. Filsafat juga hadir secara baru. Descartes mendahului dengan cogito ergo sum-nya yang kemudian memunculkan filsafat modern. Setelah Descartes, muncul lagi seorang nabi di dunia filsafat yang meramalkan runtuhnya hegemoni kekristenan di Eropa. Dialah Friedrich Wilhelm Nietzsche. Siapakah dia? Kami akan menjelaskan selengkapnya di halaman selanjutnya.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa hubungan antara konsep yang dibawa oleh Friedrich Wilhelm Nietzche dengan Nihilisme?
2.      Apakah dampak dari istilah “Gott ist Tot” terhadap kehidupan masyarakat?



BAB 2
ACUAN TEORITIK
2.1    Tokoh aliran
Nietzshe atau yang memiliki nama lengkap Friedrich Wilhelm Nietzshe ini lahir di Röcken, Jerman, pada tanggal 15 Oktober 1844 dan meninggal di Weimar, tanggal 25 Agustus 1900 M. Orangtua Nietzshe adalah seorang pendeta Lutheran yang bernama Carl Ludwig Nietzshe (1813-1849). Nietzshe diberi nama tersebut untuk menghormati kaisar Prusia Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama dengannya. Setelah kematian ayah dan adik laki-lakinya yang bernama Ludwig Joseph (1848-1850), keluarga Nietzshe pindah ke Naumburg dekat Saale.  Ia dididik dalam suasana penuh kelembutan dan kemanjaan dari ibu dan saudara perempuannya. Ia merupakan seorang yang lembut dan mempunyai hobi membaca, terutama injil. Hidupnya banyak dirundungi kemalangan, namun ia tidak pernah sedikitpun mengeluh, sebagaimana semboyannya yang terkenal “ Amor Fati “. Dalam perjalanan akademisnya ia banyak berkenalan dengan orang-orang besar yang kelak akan banyak memberikan pengaruh terhadap pemikirannya, seperti Scopenhauer, Johan Goethe, Richard Wagner, dan Fredrich Ritschl. Karir akademis bergengsi yang pernah didudukinya ialah menjadi profesor filologi di Basel University, yang ia dapatkan ketika ia berusia dua puluh tahun.[2] Ketika kesehatannya mulai memburuk, ia melepaskan jabatannya ini. Ia mengembara  ke tempat yang tenang untuk menyelesaikan karya-karyanya.
Menjelang akhir hidupnya, ia dirawat di rumah sakit jiwa. Setelah ibunya meninggal, ia dirawat oleh saudaranya, Elizabeth. Ia sangat sedih dan prihatin melihat kondisi Nietzsche, bahkan Nietzsche sendiri sudah tidak menyadari akan kebesaran namanya. Pada usia 46 tahun, tanggal 25 Agustus 1900, setelah 11 tahun menderita sakit jiwa, rajawali kaum filsuf ini mengehembuskan nafas terakhirnya di Weimar. Ia meninggalkan nama besar dan karya-karya yang sampai saat ini tidak usang untuk dinikmati berulang-ulang. Oleh Nietzshe, sejarah filsafat diperkaya dengan halaman-halaman baru, segar, ganas, gemilang, dan gila.
Berikut merupakan beberapa karya penting yang ditulis oleh Friedrich Nietzshe:
a.       1872: Die Geburt der Tragödie (Kelahiran Tragedi)
b.      1873-1876: Unzeitgemässe Betrachtungen (Pandangan Non-Kontemporer)
c.       1878-1880: Menschliches, Allzumenschliches (Manusiawi, Terlalu
Manusiawi)
d.      1881: Morgentröthe (Merahnya Pagi)
e.       1882: Die fröhliche Wissenschaft (Pengetahuan Jenaka)
f.       1883-1885: Also sprach Zarathustra (Begitulah Sabda Zarathustra)
g.      1886: Jenseits von Gut und Böse (Melampaui Kebajikan dan Kejahatan)
h.      1887: Zur Genealogie der Moral (Mengenai Silsilah Moral)
i.        1888: Der Fall Wagner (Hal perihal Wagner)
j.        1889: Götzen-Dämmerung (Menutupi Berhala)
k.      1889: Der Antichrist (Sang Antikristus)
l.        1889: Ecce Homo (Lihat Sang Manusia)

2.2    Konsep dasar
Will to power  mengarah kepada diri manusia dimana definisinya adalah prinsip seluruh kehidupan manusia dipakai untuk menerangkan dorongan hidup Yunani kuno sehingga menghasilkan kebudayaan tinggi.  Will to power disini dibagi 3 bagian oleh Nietzche :
1.      WORLD & WILL TO POWER - Beyond Good and Evil
Konsep ini banyak mendapat pengaruh dari Schopenheur. Bagi Nietzche, dunia adalah fenomena yaitu satu-satunya kenyataan sejati dari segala sesuatu maka tidak ada maya maupun metafisika. maka satu-satunya prinsip menafsirkan dunia yaitu melalui dunia fenomena. Ia membuang dunia nomena karena tiada memancarkan ' will to power'.
2.      LIFE & WILL TO POWER - Will To Power
Definisi hidup dari Nietzche adalah sejumlah kekuatan yang disatukan oleh suatu proses pemeliharaan untuk mengakhiri kekuatan sebelumnya. Manusia dan binatang sama-sama punya kekuatan yang disatukan oleh proses pemeliharaan tapi manusia punya kelebihan yaitu potensi mengatasi dirinya sendiri dan memiliki tujuan hidup maka inilah ciri hidup manusia yang menghasilkan kebahagiaan yaitu UBERMENCH. UBERMENCH adalah semacam manusia ideal yang dapat merealisasikan semua kemungkinan untuk memperoleh kebahagiaan melalui kekuasaan  dan perang terhadap sesamanya. Jadi, Nietzche berusaha menciptakan monster bertubuh manusia yang egois untuk menaklukkan dunia seperti TERMINATOR.
3.      WILL & WILL TO POWER - The Genealogy of Moral
Suatu kritik Nietzche terhadap orang kristen khususnya moralitas, bahwa sebenarnya moralitas orang kristen berasal dari kebencian dan kebahagiaan lahir dari reaksi kelemahan mereka. Kedua, setiap manusia memiliki suara hati dan orang kristen percaya suara hati adalah suara Allah dalam hati manusia tapi bagi Nietzche itulah naluri kekejaman. Ketiga, Manusia punya cita-cita bagaimana mereka hidup sesuai kehendak Tuhan. Bagi Nietzche, itu justru cita-cita yang merusak kehidupan sebenarnya dan membuat orang kristen jadi penakut karena takur terhadap ' meaningless'. Nietzche punya mimpi manusia memiliki moralitas seperti Yunani, Persia, Yahudi dan Jerman, dengan ' will to power ' diciptakan untuk melindungi masyarakat dan masyarakat hidup dalam ketaatan tapi apakah bisa terlaksana ? problemnya bisa lahir individu-individu seperti Nietzche lagi yang punya hasrat serupa melawan tradisi yang sudah mapan. Dalam hal ini Nietzche lupa siapa dirinya sebenarnya.
Konsep ini membuat Nietzsche bisa dikategorikan sebagai seorang pemikir yang naturalistic (Naturalistic Thinker), yakni yang melihat manusia tidak lebih dari sekedar insting-insting alamiahnya (natural instincts) yang mirip dengan hewan, maupun mahluk hidup lainnya. Nietzsche dengan jelas menyatakan penolakannya pada berbagai konsep filsafat tradisional, seperti kehendak bebas (free will), substansi (substance), kesatuan, jiwa, dan sebagainya.
                                               


BAB 3
PEMBAHASAN
3.1              Isu Utama Pemikiran Friedrich Nietzsche
Sebelumnya, Nietzsche telah mendapatkan inspirasi dari karya Arthur Schopenhauer, mengenai konsep the will to life. Schopenhauer, yang menulis satu generasi sebelum Nietzsche, menjelaskan bahwa alam semesta beserta seluruh isinya ini digerakkan oleh hasrat untuk hidup. Hasrat itulah yang terdapat pada semua makhluk hidup untuk menolak kematian dan menghasilkan ciptaan yang bermakna.
Selain itu Nietzsche juga membaca  buku karya Albert Lange yang berjudul Geschichte des Materialismus (History of Materialism) yang terbit tahun 1865. Nietzsche membaca buku itu pada tahun 1866.  Pada awal tahun 1872 Nietzsche mempelajari buku Boscovitch yang berjudul Theoria Philosophia Naturalis. Nietzsche mulai berbicara tentang desire for power (Machtgelust) dalam tulisannya yang berjudul  The Wanderer and his Shadow (1880) dan Daybreak (1881).
Dalam tulisan itu, Machtgelust dimaknakan sebagai “the pleasure of the feeling of power and the hunger to   to over power. Alkisah, terbitlah  karya Wilhelm Roux, The Struggle of Parts in the Organism (Der Kamf der Theile im Organismus), pada tahun 1881. Nietzsche membacanya pada tahun itu juga. Buku itu merupakan tanggapan terhadap teori Darwinian. Tujuannya menawarkan teori evolusi yang berbeda dari Charles Darwin. Roux adalah mahasiswa dari dan terpengaruh oleh pemikir terkenal Ernst Haeckel, yang meyakini bahwa perjuangan untuk hidup sudah dimulai pada taraf cellular.
Nietzsche mulai mengembangkan konsep Machtgelust dalam tulisanntya, The Gay of Science (1882). Dalam bagian tulisannya yang berjudul “On the Doctrine of the feeling of power” ia menghubungkan kehendak atau hasrat untuk kekejaman dengan feeling of power. Dalam The Gay of Science Nietzsche banyak menekankan bahwa hanya pada makhluk intelektual terdapat pleasure, displeasure, dan hasrat.
Tahun 1883 Nietzsche mengukuhkan konsep The Will to Power (Wille zur Macht) dalam karyanya yang berjudul Thus Spoke Zarathustra. Kini konsep itu tidak lagi terbatas hanya berlaku terhadap segala makhluk intelektual, tetapi juga berlaku pada semua makhluk hidup. Selalu ada the will to power di mana ada kehidupan. Sehingga, Nietzsche pun  sampai kepada pernyataan bahwa “world is the will to power – and nothing beside”.
Setelah melewati proses bertahap, konsep Shopenhauer “will to live” menjadi jauh tertinggal dibanding konsep Nietzsche “The Will to Power”. Menurut Nietzsche Shopenhauer tidak mengerti sejatinya apa itu the will to power, sebab Schopenhauer hanya mendengar dari orang lain saja. Hasrat untuk Berkuasa, kata Nietzsche, jauh lebih kuat dibanding the will to life. Tanpa the will to power manusia bukan apa-apa lagi.
The will to power adalah sebuah konsep penting yang paling melekat erat diantara beberapa tulisan dari Nietzsche.  Berkesimpulan, bahwa alam semesta dikendalikan oleh kehendak buta. Nietzche dalam study mencari gagasan Yunani kuno telah menyimpulkan bahwa kekuatan yang menjadi pendorong peradapan semata-mata adalah langkah untuk mencari kekuatan tertinggi (absolute) dalam mencari sebuah kekuasaan. Hal ini di pertegas Nietzsche yang tertulis dalam buku terjemahan karya Walter Kaufman, dan R.J. Hollingdale sebagai berikut:
Dunia ini adalah kehendak untuk berkuasa – dan tidak ada yang lainnya! Kaulah sendiri yang menjadi kehendak untuk berkuasa ini – dan tidak ada lagi yang lainnya!

3.2               Konsep Nietzsche Dengan Nihilisme
Nihilisme merupakan sebuah paham, dari kata kerja ANNIHILATE, artinya meniadakan,
membasmi, memusnahkan, menghapuskan, melenyapkan segenap eksistensi.
Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofi yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain.
Menurut beberapa narasumber yang mengkritisi filsafat ini, Nihilisme merupakan salah satu konsep dari Nietzsche.  Dan konsep ini dipeluk oleh orang-orang yang memahami bahwa realitas yang ada di alam ini hanyalah keburukan. Mereka beranggapan bahwa fenomena-fenomena yang ada pada manusia tidak lain adalah kemalangan, penderitaan, kemiskinan dan kehancuran.
3.3              “The Death of God”
Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang ‘kebenaran’ atau dikenal dengan istilah  filsafat perspektivisme. Beliau juga dikenal dengan julukan ‘sang pembunuh Tuhan’  (dalam Also Sprach Zarathustra) . Nietzsche mengkritisi kebudayaan barat di zamannya yang sebagian besar dipengaruhi oleh pemikiran Plato dan tradisi kekristenan.  Dan dikatakan bahwa kematian Tuhan dan paradigm kehidupan setelah kematian Tuhan tersebut tidak menjadikan filosofi Nietzsche menjadi sebuah filosofi nihilisme. Namun, sebaliknya filosofi yang dikemukakan oleh Nietzsche ini adalah filosofi untuk menaklukkan nihilisme (Űberwindung der Nihilismus) dengan mencintai utuh kehidupan (Lebensbejahung) dan memposisikan manusia sebagai manusia purna Űbermensch dengan kehendak untuk berkuasa (der Wille zur Macht).
Sebuah ungkapan yang sering dikutip dari Friedrich Nietzsche adalah “Tuhan sudah mati” yang muncul pertama kali dalam The Gay Science, seksi 108 (New Strunggles), dalam seksi 125 (The Madman), dan untuk ketiga kalinya dalam seksi 343 (The Meaning of Our Cheerfulness). Dalam The Madman dinyatakan sebagai berikut:
“Tuhan sudah mati, dan Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, apa perlu permainan-permainan suci yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu (pembunuhan Tuhan)?”
Namun ungkapan seperti itu tidak boleh ditanggapi secara harfiah, bahwa secara fisik Tuhan kini sudah mati (karena Tuhan tidak mati dan tak pernah mati). Inilah cara Nietzsche mengatakan gagasan bahwa Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teologi.



BAB 4
KESIMPULAN
1.      Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa nihilisme adalah konsep Nietzsche, yang mengatakan bahwa dunia ini terutama keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan. Nihilis biasanya memiliki beberapa atau semua pandangan ini: tidak ada bukti yang mendukung keberadaan pencipta, moral sejati tidak diketahui, dan etika sekular adalah tidak mungkin. Karena itu kehidupan tidak memiliki arti, dan tidak ada tindakan yang lebih baik daripada yang lain. Namun pandangan lain mengatakan bahwa konsep yang disampaikan oleh Nietzsche mengenai kematian tuhan itu bukanlah menjadi sebuah filosofi nihilisme, namun sebaliknya menjadi sebuah filosofi yang menaklukkan nihilisme. Bila dilihat, antara will to power dan nihilisme tidaklah sama, namun saling berkaitan. Nihilisme yang mengatakan keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan sedikit dibantah oleh Nietzsche yang mengatakan bahwa manusia memiliki kekuatan untuk berkuasa.
2.      Istilah “Gott Ist Tot” banyak digunakan  dalam kehidupan masyarakat dan rata-rata dibidang seni.
a.       “Dio è morto” (Tuhan sudah mati, bahasa Italia) adalah judul dari sebuah nyanyian Italia terkenal yang ditulis oleh pengarang lagu Francesco Guccini yang menjadi hit bagi band Italia Nomadi pada 1965.
b.      “Tuhan sudah mati” juga merupakan sebuah lagu instrumental Midtown dalam album 2004 mereka Forget What You Know (Lupakan yang Anda Tahu).
c.       Ungkapan “Gott Ist Tot” digunakan dalam lagu “Willst du Hoffnung?” (Anda menginginkan pengharapan) dan “Der neue Gott” (Tuhan yang baru) oleh kelompok Jerman OOMPH!.
d.      Drama televisi The Second Coming (TV) berakhir dengan Tuhan yang sedang sekarat, dengan maksud menakut-nakuti umat manusia agar mereka bersungguh-sungguh menjalani kehidupan mereka dengan baik dan menyingkirkan hukuman kekal di neraka.










BAB 5
REFERENSI

 

Maksum, A. (2008). Pengantar Filsafat. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
RayaCultura. (n.d.). sastra-politik-dan-kuasa. Retrieved 03 19, 2013, from http://www.rayakultura.net.
Riyana, C. (n.d.). Retrieved 03 19, 2013, from http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._KURIKULUM_DAN_TEK._PENDIDIKAN/197512302001121-CEPI_RIYANA/06_Filsafat_Nihilisme.pdf
Santoso, D. (n.d.). daniel_santoso/reflection. Retrieved 03 19, 2013, from http://members.tripod.com.
Wattimena, R. A. (2011, 12 16). manusia-dan-kehendak-untuk-berkuasa. Retrieved 03 19, 2013, from http://rumahfilsafat.com.

Friday, April 19, 2013

Filsafat Alam dan Filsafat Kontemporer

elisabeth alfrida


Bab I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah
            Sejarah awal munculnya khazanah pemikiran filsafat tidak bisa dilepaskan begitu saja dangan kebudayaan dan peradaban Yunani. Karena di negeri itulah filsafat lahir dan berkembang hungga mencengangkan peradaban dunia lain hingga abad ini. Maka dari itu tidak heran bila banyak pihak mengkaji filsafat berawal dari sejarah peradaban Yunani Kuno, lalu abad pertengahan, modern sampai abad kontemporer seperti saat ini.
            Namun pada awal perkembangannya sebagaian orang terus menggugat dan terus melontarkan pertanyaan kritis meski kesannya biasa-biasa saja. Pertanyaan mereka adalah mengapa filsafat muncul di Yunani dan kenapa tidak lahir di daerah neradab lain seperti Babilonia Mesopotamia atau Mesir? Jawaban yang sederhana adalah Yunani berbeda dengan daerah lainnya, Yunani lebih dikenal sebagai negeri yang tidak mempersoalkan perbedaan status social seperti kasta pendeta, ketimbang lainnya dan iklim itulah yang membuat perkembangan pemikiran begitu pesat. Masyarakat Yunani masih menggantungkan diri pada mitos, legenda, kepercayaan dan agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan mereka. Tetapi sekitar abad ke-7 SM, di Yunani mulai berkembang suatu pendekatan yang sama sekali berlainan dibanding masa-masa sebelumnya, yaitu pendekatan filsafat. Sejak saat itulah orang mulai mencari jawaban rasional tentang berbagai problem yang dihadapi, termasuk beragam masalah mengenai alam semesta.

I.2 Rumusan Masalah
v  Apa perbandingan antara Filsafat alam dengan filsafat kontemporer ?


Bab II
Acuan Teoretik

II.1 Biogarafi Tokoh
Thales adalah seorang filsuf yang mengawali sejarah filsafat Barat pada ke-6 SM. Sebelum Thales, pemikiran Yunani dikuasai cara berpikit mitologis dalam menjelaskan segala sesuatu. Pemikiran Thales dianggap sebagai berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala didalamnnya tanpa bersandar pada mitos melainkan pada rasio manusia. Ia juga dikenal sebagai seorang dari Tujuh Orang Bijaksana (dalam bahasa Yunani hoi hepta sophoi), yang oleh Aristoteles diberi gelar “filsuf yang pertama”. Selain seorang filsuf, Thales juga dikenal sebagai ahli geometri, astronomi dan politik. Bersama dengan Anaximandros dan Anaximenes, Thales digolongkan ke dalam Mazhab Miletos.
                         Thales (624-546 SM) lahir di kota Miletus yang merupakan tanah perantauan orang-orang Yunani di Asia Kecil. Situasi Miletos yang makmur memungkinkan orang-orang di sana untuk mengisi waktu dengan berdiskusi dan berpikir tentang segala sesuatu. Hal itu merupakan awal dari kegiatan filsafat sehingga tidak mengherankan bahwa para filsuf Yunani pertama lahir di tempat ini
                        Thales adalah seorang saudagar yang sering berlayar ke Mesir. Di Mesir, Thales mempelajari ilmu ukur dan membawanya ke Yunani. Ia dikatakan dapat mengukur piramida dari bayangannya saja. Selain itu, ia juga dapat mengukur jauhnya kapal dilaut dari pantai. Kemudian Thales juga terkenal setelah berhasil memprediksi terjadinya gerhana matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585 SM. Thales dapat melakukan prediksi tersebut karena ia memperlajari catatan-catatn astronomis yang tersimpan di Babilonia sejak 747 SM.
                        Ada banyak kisah mengenai Thales salah satunya diceritakan Aristoteles dalam bukunya Politics (1259): “Ia dicemooh karena miskin, karena itu filsafat dianggap ilmu tak berguna . Namun menurut kisah itu, berkat pengetahuannya tentang perbintangan –meski saat itu masih musim dingin- ia tau bahwa akan terjadi panen buah zaitun yang berlimpah di tahun depan. Demikianlah, dengan uangnya yang tak seberapa itu ia membayar uang muka untuk menyewa semua alat pengolahan zaitun di Chios dan Miletus, yang dia bayar dengan harga rendah karena tak seorang pun yang menolak tawarannya tatkala musim panen tiba dan banyak orang yang membutuhkan iya melepasnya dengan harga sesuka hati (mahal) dan menghasilkan banyak uang. Jadi ia mampu membuktikan pada dunia bahwa para fulsuf bisa kaya dengan gampang jika mereka mau. Hanya saja ambisi mereka menuju ke arah lain.”

II.2 Konsep Dasar Pemikiran Tokoh
            Air sebagai Prinsip Dasar Segala Sesuatu
            Pemikiran Thales yang sangat terkenal adalah zat utama yang menjadi dasar semua kehidupan adalah air. Thales menyatakan bahwa air menjadi pangkal, pokok, dan dasar dari segala-galanya yang ada di alam semesta.
            Berkat kekuatan dan daya tariknya sendiri ada sebab-sebab di luar dirinya, air mampu tampil dalam segala bentuk, bersifat mantap dan tak terbinasakan. Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair dan gas) tanpa menjadi berkkurang.
            Selain itu, ia jga mengemukakan pandangan bahwa bumi terletak di atas air. Bumi dipandang sebagai bahan yang satu kali keluar dari laut dan kemudian terapung-apung diatasnya.



            Pandangan tentang Jiwa
            Thales berpendapat bahwa segala sesuatu di jagat raya memiliki jiwa. Jiwa tidak hanya terdapat di dalam benda hidup tetapi juga benda mati. Teori tentang materi yang berjiwa ini disebut hylezoisme. Argumentasi Thales didasarkan pada magnet yang dikatakan memiliki jiwa karena mampu menggerakkan besi.

















Bab III
Pembahasan

III.1 Tema/ Isu Utama

          Yang menjadi tema/ isu utama dalam pemikiran Thales seperti yang telah dijelaskan dibab sebelumnya yaitu air sebagai prinsip dasar segala sesuatu. . Argumentasi Thales terhadap pandangan tersebut adalah bagaimana bahan makanan semua makhluk hidup mengandung air dan bagaimana semua makhluk hidup juga memerlukan air untuk hidup. Selain itu, air adalah zat yang dapat berubah-ubah bentuk (padat, cair dan gas) tanpa menjadi berkkurang.

III.2 Dampak Pemikiran Tokoh Terhadap Kehidupan

          Dampak yang terjadi karena pemikiran Thales salah satunya adalah adanya atau munculnya para pemikir atau filsuf yang lain sehingga adanya filsuf abad yunani, modern maupun kontemporer yang mengeluarkan atau member pendapat mereka tentang sesuatu atau kehidupan. Namun dengan berbagai dasar atau filsafat yang berbeda pula.








Bab IV
KESIMPULAN

v  Apa perbandingan filsafat alam dengan filsafat kontemporer ?

Pemikiran filsafat Yunani periode awal acap kali disebut sebagai filsafat alam. Penyebutan tersebut didasarkan pada munculnya banyak ahli fikir alam yang memfokuskan pemikirannya pada apa yang diamati disekitarnya yakni alam semesta. Tipe filsafat alam ini juga disebut sebgai filsafat Pra Socrates sebab karakter pemikiran filsafat ini berbeda dengan pemikiran filsafat zaman Socrates dan berikutnya. Belakangan ini, tokoh-tokoh filsuf pra Socrates ini lebih dikenal dengan filsuf pertama atau filsuf alam. Mereka mencari unsur induk (arche) yang dianggap asal dari segala sesuatu. Pandangan dari para filsuf ini melahirkan monism, yaitu aliran yang menyatakan hanya satu kenyataan fundamental. Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa, materi, Tuhan dan subtansi lainnya yang tidak dapat diketahui.
      Sedangkan filsafat modern yang katanya sudah lebih sempurna ternyata masih ada sisi kurangnya sehingga muncul pemikiran baru dalam asas pemikiran yang disebut Filsafat kontemporer. Kegagalan tersebut disebabkan atas dua alasan yaitu, yang pertama, merasa bahwa penilaian terhadap apa yang digolongkan sebagai kebijaksanaan lebih didasari perasaan (feeling) dan keingintahuan atau gairah (desires) ketimbang pengetahuan (knowledge). Kedua, penilaian itu didasari oleh intuisi yang sulit dipertahankan dengan argumentasi logis.






Bab V
Penutup

Sejarah awal munculnya khazanah pemikiran filsafat tidak bisa dilepaskan begitu saja dangan kebudayaan dan peradaban Yunani. Karena di negeri itulah filsafat lahir dan berkembang hungga mencengangkan peradaban dunia lain hingga abad ini. Maka dari itu tidak heran bila banyak pihak mengkaji filsafat berawal dari sejarah peradaban Yunani Kuno, lalu abad pertengahan, modern sampai abad kontemporer seperti saat ini. Para filsuf alam ini juga disebut filsuf pra Socrates karena merekalah filsuf pertama sebelum adanya Socrates beserta muridnya.


Referensi

(n.d.). Retrieved February 15, 2013, from www.wikipedia.com: id.wikipedia.org/wiki/Thales
(n.d.). Retrieved February 16, 2013, from anshar-mtk.blogspot.com/2012/10/filsafatkontemporer
Maksum, A. (1 Juni 2008). Pengantar Filsafat. Malang: AR-RUZZ MEDIA.


Eksistensialisme dalam pandangan Martin Heidegger

elisabeth alfrida






BAB 1
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang Masalah

Eksistensia membuat yang ada dan bersosok jelas bentuknya, mampu berada, eksis.Oleh eksistensia kursi dapat berada di tempat.Pohon mangga dapat tertanam, tumbuh, berkembang.Harimau dapat hidup dan merajai hutan. Manusia dapat hidup, bekerja, berbakti, dan membentuk kelompok bersama manusia lain.
Selama masih bereksistensia, segala yang ada dapat ada, hidup, tampil, hadir.Namun, ketika eksistensia meninggalkannya, segala yang ada menjadi tidak ada, tidak hidup, tidak tampil, tidak hadir.Kursi lenyap. Pohon mangga menjadi kayu mangga. Harimau menjadi bangkai. Manusia mati. Demikianlah penting peranan eksistensia. Olehnya, segalanya dapat nyata ada, hidup, tampil, dan berperan.

              Hal – hal yang layak dan patut untuk di eksiskan patut untuk ditampilkan agar semua orang tau keberadaan hal tersebut , eksistensialisme berperan penting untuk kehidupan kita agar kita manusia satu sama lain saling mengetahui , menghargai dan mengakui keberadaan manusia lain yang ada di sekitar kita .

Martin Hiedegger memulai karirnya sebagai orang kristen baru. Dia memperoleh dokter di “Freiburg im Breisgau”, dan lalu ia mengikuti jejak pemikiran Husserl. Ia menyusun skripsi tentang katogori dan signifikansi dari ajaran duns Scotus’s. Ia lalu menjadi koeditor di “Jahrbuch fur philosophie und phanomenologische forscbung”. Heidegger merupakan pemikir yang ekstrim, hanya beberapa filsuf saja yang mengerti pemikiran Heidegger. Pemikiran Heidegger selalu tersusun secara sistematis. Tujuan dari pemikiran Heidegger pada dasarnya berusaha untuk menjawab pengertian dari “being”. Di dalam realitas nyata being (sein) tidak sama sebagai “being” ada pada umumnya, sesuatu yang mempunyai ada dan di dalam ada, dan hal tersebut sangat bertolak belakang dengan ada sebagai pengada. Heidegger menyebut being sebagai eksistensi manusia, dan sejauh ini analisis tentang “being” biasa disebut sebagai eksistensi manusia (dasein).





Rumusan Masalah

1.      Bagaimanakah Eksistensialisme dalam kajian Filsafat ?
2.      Bagaimanakah Eksistensialisme dalam pandangan Martin Heidegger ?


BAB 2
ACUAN TEORITIK

2.1  Tokoh Aliran ( Martin Heidegger 1889 – 1976 )

             Martin Heidegger lahir di Baden , Jerman . Ayahnya bekerja sebagai Kosfer di Gereja ST.Martius . Ia belajar di Konstanz , kemudian ia masuk Universitas Freiburg, Jurusan Teologi. Namun, tidak lama kemudian ia beralih menekuni bidang filsafat . Faoucault meraih doktor filsafat lewat disertasinya , Die Lehre Vom Urteil Im psychologismus .
Pada tahun 1915, ia mulai mengajar di bangku kuliah ia sudah mendalami fenomenologinya Edmund Husserl. Ketika Husserl bekerja di Freiburg, kehadiran itu membawa pengaruh besar asistennya . Pada tahun 1923 ia diundang ke Universitas Marburg dan diangkat menjadi professor. Di sini ia bertemu dengan Rudolf Bultman, seorang teolog terkemuka Protestan. Pada tahun 1928 ia diangkat menjadi professor di Freiburg sebagai pengganti Husserl.
              Ketika Hitler berkuasa di Jerman, Heidegger di pilih menjabat sebagai rector karena keterlibatannya di partai Nazi. Tetapi, banyak orang menyayangkan keterlibatan Heidegger dalam membantu aktivitas Nazi tersebut. Namun demikian , Heidegger belakangan sangat menyesal dengan sikapnya itu dan ia mengundurkan diri dan menyepi di desa terpencil sampai akhir hayatnya.
              Heidegger adalah salah seorang murid Hegel. Berbeda dengan gurunya. Heidegger tidak menaruh perhatian sama sekali terhadap metode filsafat atau penyelidikan Husserl mengenai matematika. Sebelum ia menjadi fenomenolog, ia dikenal sebagai mahasiswa teolog yang pandai yang acapkali melontarkan pertanyaan – pertanyaan kritis dan eksistensialis .
               Filsafat Heidegger dianggap sebagai prestasi monumental dan termasuk filsafat yang paling kuat dan berpengaruh hingga abad ini. Pemikiran filsafatnya terdiri atas dua bagian. Bagian pertama banyak dia curahkan dalam karyanya yang berjudul Being and Time, yang terbit pada tahun 1928. Pada karya awal tersebut ia lebih memisisikan diri sebagai fenomenolog. Tapi tak sedikit orang yang mengategorikannya selain sebagai fenomenolog juga sebagai seorang eksistensialis.
                 Seperti Kierkegard, Heidegger menyelediki arti eksistensi yang autentik, makna kekekalan kita, tempat kita di dunia dan di antara oang lain sebagai individu. Karya Heidegger kemudian membuat putaran yang berbeda. Selama ia berfilsafat, Heidegger menegaskan sebagaimana gurunya Husserl ia memulai dari presuposisi-presuposisi yang muaranya kea rah pemahaman filsafat yang holistic.
                   Karya awal Heidegger tersebut dipahami sebagian kalangan dalam dua aspek penting. Pertama, Heidegger memperlihatkan anti Cartesianisme yang mendalam , khususnya mengenai pikiran dan tubuh, pembedaan antara subjek dan objek, pemisahan linguistic atas kesadaran, pengalaman dan pikiran . Kedua, filsafat Heidegger sebagian besar adalah pencarian terhadap autentisitas yang dapat dipahami dengan penjelasan tertentu sebagai keutuhan .
                   Beberapa karya Heidegger antara lain ; Sein and Xeit ( ada dan waktu ) 1927 , Kunt und das problem der metaphysic ( apakah metafisika ? ) 1929, Holzawage ( jalan-jalan buntu ) 1957, Vortrage und Aufsatze 1957 , Identitat und differenz 1969 , Zur sache des dekes 1969, Ein uhrung in die metaphysic 1953, Was heist denken 1954, Nietzche 1961, Phenomenologie und Theologie.
                   Dalam buku Sein und Zeit Heidegger menguraikan tentang ada secara mendalam, tetapi sebelum sampai pada langkah ini , filsuf ini menajukan pertanyaan , siapakah yang mengajukan permasalahan tentang ada itu ? Makhluk tidak lain adalah Manusia. Tetapi, ia tidak menyebutkan manusia, tetapi “subjek, aku, pesona, kesadaran”. Sedangkan manusia dengan nama desain. Kata ini dari kata sein = ada, dan kata da = di situ. Manusia tidak ada , befitu saja tetapi secara erat bertautan dengan adanya sendiri.
                     Menurut Hidegger , manusia itu terbuka bagi dunianya dan sesamanya. Kemampuan seseorang untuk bereksistensi dengan hal-hal diluar dirinya karena memiliki kemampuan seperti kepekaan, pengertian, pemahaman , perkataan , atau pembicaraan . Yang dimaksud dengan mengerti dan memahami ialah bahwa manusia dengan kesadarannya akan berdaya diantara benda-benda lainnya harus berbuat sesuatu untuk menggunakan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan memberi arti manfaat pada dunia dalam kemungkinan- kemungkinannya. Bagi Heidegger, untuk mencapai manusia yang utuh maka manusia itu harus merealisasikan segala potensinya – meski dalam kenyataannya seseorang itu tidak mampu merealisasikan semua itu, ia tetap berusaha sekuat tenaga dan mempertanggungjawabkan atas potensi yang belum teraktualisasikan.
                    Sama halnya dengan konsep ada dan non-ada, konsep ada-dalam-dunia( Inggris: being-in-the-world, jerman: in-der-welt-sein, Prancis:I’etre-dans-lemonade) juga merupakan konsep yang fundamentasl bagi para eksistensialis alam rangka menerangkan gejala keberadaan manusia . Konsep ada-dalam-dunia yang diperkenalkanoleh Martin Heidegger ini mengandung implikasi bahwa manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya dengan meng-ada di dalam dunia.
                     Untuk menangkap pengertian yang jelas dan keluar dari istilah ada-dalam yang digunakan oleh Heidegger memiliki arti yang dinamis, yakni mengacu kepada hadirnya subjek yang selalu berproses. Demikian pula dunia yang dikemukakan Heidegger itu harus dimenferti sebagai hal yang dinamis, bisa hadir da menampakkan diri dan bukan dunia yang tertutup atau semata-mata suatu dunia fisik geografis yang terbatas dan membatasi manusia . Heidegger sendiri menekankan bahwa ada dalam dunia adalah seinkomen yang berarti manusia mampu berada .
                        Jadi, ada-dalam-dunia itu tidak menunjuk pada fakta beradabnya manusia di dalam dunia seperti berada dalam karung atau baju dalam lemari, melainkan mewujud pada realitas dasar bahwa manusia hidup atau mengungkapkan keberadaannya di dunia sambil merancang, mengolah atau membangun dunianya itu , Manusia dan dunia adalah suatu totalitas yang menjadi relasi dialogis ( penggunaan tanda lambing dalam istilah ada dalam dunia itu pun sudah mengisyaratkan pandangan total dan dialektif dari Heidegger mengenai manusia dunia ). Totalitas dan dialektika manusia dunia itu mengandung implikasi bahwa keberadaan manusia dan perkembangan dunia. Dalam kenyataan manusia akan berkembang jika dia mengembangkan dunianya .
Selain itu filsafat Heidegger yang paling fenomenal adalah berkaitan degang konsep suasana hati (mood). Di dalam suasana hatilah kita”diataur” oleh dunia kita, bukan dalam pendirian pengetahuan observasional yang berjarak. Suasana hati juga dijadikan sebagai titik tolak untuk memahami hakikat diri dan siapa kita. Barangkali inilah yang menguatkan pendapat banyak orang menilai Heidegger sebagai sosok yang mampu melihat noumena dan phenoumena.


















2.2  Konsep Dasar Aliran ( Eksistensialisme )

Eksistensialisme sering diartikan beragam, mulai dari paham yang dianut oleh para anggota kesenian avant garde di paris; aliran filsafat yang membahas penderitaan hidup dan mendukung tindakan bunuh diri; sistem pemikiran di Jerman yang bertendensi anti-rasional; sampai pada aliran seni (tokoh-tokohnya antara lain Van Gogh, Cezanne, dan Picasso) dan kesusastraan (tokoh-tokohnya misalnya Dostoeveski, Kaffka, Baudalaeir, dan Rilke).
Istilah eksistensi berasal dari kata Ex-Sitere, yang secara literal berarti begerak atau tumbuh keluar. Dengan istilah ini hendak dikatakan oleh para eksistensialis bahwa eksistensi manusia seharusnya dipahami bukan sebagai kumpulan substansi-substansi, mekanisme-mekanisme, atau pola-pola statis, melainkan sebagai “gerak” atau “menjadi”, sebagai suatu yang “mengada”. Dalam konteks ini, pertanyaan krusial bukanlah, misalnya saja, apakah betul bahwa saya terbuat dari bahan-bahan kimiawi tertentu, sehingga masalah yang saya hadapi adalah bagaimana saya sadar akan kenyataan itu dan apa yang akan saya lakukan kemudian.
Arti eksistensi akan kita pahami secara jelas lagi kalau kita maninjau kembali pembedaan tradisional antara istilah eksistensi dan esensi. Esensi menunjuk pada, katakanlah, kecoklatan dari kayu ini, kepadanya, dan karakter-karakter lain yang membuat tongkat itu menjadi berarti.
Eksistensialisme dalam memahami manusia mempunyai beberapa pendahulunya yang sangat terkenal dalam sejarah barat seperti Sokrates dalam dialog-dialognya, Agustinus dalam analisa psikologi-dalamnya, Pascal dalam perjuangannya untuk menemukan sebuah tempat bagi alasan-alasan hati yang tidak diketahui oleh rasio. Tetapi cara pemahaman Eksistensialisme yang lebih berpengaruh muncul secara khusus seratus tahun yang lalu dalam protes-protes keras Kierkegaard terhadap rasionalisme dan Idealisme Hegel yang sangat berpengaruh waktu itu.
Soren Kierkegaard menyatakan bahwa pengertian Hegel tentang kebenaran yang abstrak mengenai kenyataan merupakan suatu ilusi dan penuh tipu daya. Kebenaran itu ada, demikian tulis Kierkegaard, hanya setelah individu membuat kebenaran itu dalam tindakan. Para eksistensialis lainnya mengkritik para rasionalis dan idealis yang melihat manusia sebagai subjek, yakni memandang manusia hanya sebagai makhluk berpikir.
Ekisistensi dari hal-hal Individual, dengan demikian, diluar gambaran yang abstrak itu. Misalnya kita dapat menunjukan bahwa tiga apel ditambah tiga apel sama dengan enam. Tetapi ini akan sama halnya kalau apel diganti dengan jeruk, secara matematis tidak ada perbedaan mendasar apakah apel atau jeruk itu ada atau tidak ada.
Dengan demikian, bahwa sebuah proposisi dapat saja benar tanpa ada masalah apakah yang ditunjukkan itu nyata (real) atau tidak. Maka dari itu pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam Eksistensialisme adalah, apakah secara abstrak benar dan apa yang secara eksistensial nyata bagi pribadi-pribadi atau individu.
BAB 3

PEMBAHASAN


3.1 EKSISTENSIALISME SEBAGAI FILSAFAT

                 Dalam kajian filsafat, benturan antar aliran akan banyak ditemui, terutama setelah satu pandangan dengan pandangan lain bertemu pada satu tema besar yang menjadi inti dari masing-masing aliran itu. Dampaknya, untuk para pemula dalam bidang ini, akan mengalami berbagai macam kebingungan karena komplektisitas dan penuh dialektika didalamnya.
Husserl telah memberikan banyak rangsangan pada para filsuf eksistensialis seperti Heidegger, Sartre, dan Merleau-Ponty. Akan tetapi arus filsafat eksistensial bergerak kearah yang berbeda dengan yang dituju oleh Husserl. Jika filsafat Husserl berurusan dengan esensia berbagai hal, para eksistensialis bergumul dengan eksistensial. Bagi sejumlah eksistensialis kontomporer, fenomenologi adalah titik keberangkatan dan fase perama dari evolusi filsafat mereka. Beberapa eksistensialis itu, membentuk hubungan yang erat dengan fenomenologi dari pada para eksistensialis lainnya. Akan tetapi, bagaimanapun, segenap eksistensialis,menerima metode fenomenologis sebagai metode yang mendasar dan sah.karena itu, boleh dikatakan bahwa para eksistensialis dalah juga fenomenolog, tetapi tidak sebaliknya.
Meskipun eksistensialisme berhutang banyak pada fenomenologi, ilham-ilhamnya yang esensial berasal dari sumber-sumber yang lain, yakni pemikiran-pemikiran Kierkegaard dan friedrich Nietz (1844-1900), bahkan dari pada pemikir yang lebih awal. Gerakan baru ini timbul secara bersamaan dan mandiri dibeberapa negara serta menyebar dengan cepat. Persamaan iklim intelektual serta faktor-faktor dan kondisi-kondisi umum bisa menerangkan bagaimana eksistensialisme timbul dan memperoleh penerimaan dibanyak negara.

3.2 EKSISTENSIALISME DALAM DUNIA HEIDEGGER

                   Martin Heidegger sepintas mungkin dinilai matematis dan kaku dalam menenun eksistensialismenya. Namun, hal tersebut sesungguhnya tidak identik dengan Martin Heidegger. Ia memiliki bangunan filosofis yang permanen dengan keterbukaannya yang luar biasa untuk mengantar filsafat pada pencarian sesuatu yang terdalam pada hal-hal lain yang berada di sekelilingnya. Hal-hal yang mengitari proses identifikasi human. Dengan demikian filsafat Heidegger adalah rangkaian arus berpikir yang tidak hanya mengetengahkan makna dari penjumlahan dalam dan luar belaka, melainkan bagaimana manusia dalam proses menjadi dan mencari arti keberadaaannya mampu memasuki ranah makna hal-hal di luar dirinya sebagai dirinya. Ekternalisasi eksistensialisme Martin Heidegger merupakan salah satu bagian dari filosofi keberadaan yang memberi ruang bagi interaksi manusia dengan hal-hal sekitar. Kalau pada Sartre interaksi itu dipenuhi oleh gaya kebebasan, maka pada Heidegger interaksi itu ditentukan oleh pemberian makna. Apa yang dimaknai di luar diri kemudian menjadi salah satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi manusia sendiri. Yang di luar manusia harus bisa dicari benang merahnya dengan manusia itu sendiri. Semua yang di luar baru bermakna apabila manusia mendekatinya. Manusia mampu menjadi yang lain dengan mengembangkan pemaknaannya serentak semua yang lain yang berada di luar manusia tersebut ditarik ke dalam ranah individu, karena semua yang lain itu adalah pemenuh arti manusia sendiri. Manusia menjadi penuh karena keterhubungan ini.
Karya filsuf asal Jerman yang santer disebut sebagai bapak fenomenologi yang mengantar aras pemikiran pada gerbang post-modernisme ini juga berhasil memberi apresiasi berbeda dari ciri filsafat klasik. Kalau pada metodologi klasik segala sesuatu didekati dengan berbagai cara dan proses untuk mengetahui makna terdalam, maka pada Martin Heidegger segala sesuatu diarahkan pada usaha memberi makna pada keberadaan. Segala sesuatu ditarik pada keterhubungannya yang apa adanya, tanpa memberi titik berat pada latar pengalaman dan kejadian-kejadian yang berhubungan. “Sesuatu” dinilai berdasarkan hubungan eksternalnya, hal-hal yang mengondisikan bagaimana sesuatu itu menjadi. Pada titik ini, individu bisa menjadi yang lain tetapi pemaknaan ini harus bergema pada identifikasi keberadaannya.
Yang ada di luar manusia akan berarti jika digunakan manusia. Di dalam dirinya, “hal-hal di luar” tidak memiliki makna. Mereka baru memiliki makna jika manusia merengkuhnya seturut tujuan dan alasan mengapa mereka digunakan. Pertanyaan tentang apa itu sesuatu tidaklah lebih penting ketimbang, bagaimana sesuatu itu bernilai dalam kontrol individu tertentu.
Pada akhirnya HEIDEGGER merasa mencapai metafisika yang lengkap dan sungguh-sungguh, jadi filsafat tentang ada yang sistematis. Hal ini menjauhkannya dari pendapat KIERKEGAARD. Begitu pula berlainan benar pendapatnya, karena dari eksistensi manusia tak dilihatnya jalan kepada Tuhan. Sehingga filsafatnya cenderung mengandung pemahaman ateisme.

PEMIKIRAN DAN METODE HEIDEGGER
1. Ditujukan pada pemecahan konkrit masalah "berada". Sebab selama ini pengertian kita tentang itu masih "samar".
2. "Berada" hanya dapat dijawab lewat "mitologi", artinya jika dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungannya dengan itu. Agar usaha itu berhasil mereka harus gunakan "fenomenologi" > sebagai metode.yang penting apa arti "berada".
3. Satu-satunya "berada" yang dengan sedirinya dapat dimengerti sebagai "berada" adalah beradanya manusia.
4. Harus dibedakan antara "sein" = barada/manusia dengan "seinde" = yang berada/benda. Benda-benda hanya "varhanden" = jika dipandang pada dirinya sendiri, hanya terletak begitu saja didepan orang tanpa adanya hubungan dengan orang itu.
5. Manusia > bberdiri sendiri tanpa mengambil tempat di tengah-tengah dunia sekitarnya. Dengan demikian berarti ia "berada" bukan "yang berada".
• Keberadaan manusia disebut "dasein" = berada di sana, di tempat. Untuk itu, manusia harus keluar dari dirinya sendiri dan berdiri di tengah-tengah segala yang berada.
• Dasein manusia disebut juga eksistensi = benda dalam dunia. Misal : kayu bakar dll.
• Secara fenomenologis : hubungan manusia dan dunianya bersifat praktis = ia sibuk dengan dunia/mengerjakan dunia (besargen=menyela-nyelakakan)
• Di dunia, manusia berbuat. Berbuat : Praktis & teoritis (manusia diam). Praktis : manusia bertemu benda-benda dan berbuat dengan benda-benda itu. contoh : kayu jadi kursi, dll.
• Dalam hidupnya dengan alam sekitar, manusia bersikap praktis. Dengan demikian, manusia sebenarnya terbuka dengan dunianya.

Keterbukaan manusia bersumber pada 3 hal :
1. Befindlicheit : kepekaan, diungkap dalam bentuk perasaan/emosi, rasa senang, kecewa, dll.
2. Verstehen : mengerti/memahami, bukan pengertian biasa tetapi yang mendalam. sadar = sadar akan "beradanya", dengan itu seluruh dunia = berarti. Ia harus buat rencana terhadap dunia harus diapakan.
3. Rade : berbicara, mewujudkan asas yang eksisensial bagi kemungkinan untuk berbicara & berkomunikasi kata berhubungan dengan arti :
• Manusia adalah makhluk yang berbicara. Sambil berbicara ia mengungkapkan diri (eksis).
• Manusia yang tidak eksis = mati.
• Mati bukan makna sebenarnya (meninggal), tapi memustahilkan segala kemungkinan dari diri kita.











BAB 4

KESIMPULAN

                     Dari pembahasan yang telah dipaparkan dapat kami simpulkan bahwa Dunia dalam Eksistensialisme Martin Heidegger adalah , bagaimana harusnya manusia menampakkan dirinya , kemampuannya kepada dunia . manusia itu terbuka bagi dunianya dan sesamanya. Kemampuan seseorang untuk bereksistensi dengan hal-hal diluar dirinya karena memiliki kemampuan seperti kepekaan, pengertian, pemahaman , perkataan , atau pembicaraan . Yang dimaksud dengan mengerti dan memahami ialah bahwa manusia dengan kesadarannya akan berdaya diantara benda-benda lainnya harus berbuat sesuatu untuk menggunakan kemungkinan-kemungkinan yang ada pada dirinya dan memberi arti manfaat pada dunia dalam kemungkinan- kemungkinannya. Bagi Heidegger, untuk mencapai manusia yang utuh maka manusia itu harus merealisasikan segala potensinya – meski dalam kenyataannya seseorang itu tidak mampu merealisasikan semua itu, ia tetap berusaha sekuat tenaga dan mempertanggungjawabkan atas potensi yang belum teraktualisasikan. Dunia tanpa Eksistensialisme berarti dunia mati , seperti dalam dunia dalam karung , tanpa di ketahui apa isinya , apa manfaatnya , dan apa kemampuannya . Dengan adanya Eksistensialisme di dunia , manusia dapat diakui keberadaanya , manfaatnya dan kemampuannya . Dunia nyata dengan adanya Eksistensialisme .