Showing posts with label Katolik. Show all posts
Showing posts with label Katolik. Show all posts

Wednesday, May 22, 2013

Liturgi Ekaristi

elisabeth alfrida ====> Umat beriman [Katolik] memiliki hak atas Liturgi yang sejati, yang berarti Liturgi yang diinginkan dan ditetapkan oleh Gereja, dalam hal ini dan oleh karena alasan inilah orang harus kaku soal liturgi. 

Terutama karena Konsili Vatikan 2 mengajarkan bahwa Liturgi Ekaristi itu pada hakekatnya merupakan "sumber dan puncak" dari iman Kristen [yang sejati, Katolik] dan kegiatan Gereja.

Hidup peribadatan kita tidak dapat dipisahkan dari hidup iman kita. "lex orandi, lex credendi"--"TATA (baca: aturan hukum [ber-]doa itu sama dengan TATA iman." Maksudnya adalah, Ibadat kita pada hakekatnya adalah sebuah PENGAKUAN IMAN. Liturgi-liturgi yang ditata dan ditetapkan oleh otoritas tertinggi Gereja katolik itu sesungguhnya mengungkapkan ibadat SEJATI umat Allah, Tubuh Kristus.

PENTING:
Perubahan-perubahan dalam liturgi mencerminkan sebuah perubahan dalam iman atau sebuah PERUBAHAN dalam PEMAHAMAN iman atau sebuah PERUBAHAN dalam pemahaman MENGENAI iman. Dan Bunda Gereja memperlakukan hal ini dengan sangat serius. Untuk melindungi liturgi-liturgi dari penyimpangan itulah, Gereja menetapkan bahwa wewenang untuk mengatur Liturgi semata-mata ada pada pimpinan Gereja, yaitu Tahta Apostolik seturut hukum Kanon dan Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium, dan aneka dokumen terkait:

-Instruksi Redemptionist Sacramentum,

-Instruksi mengenai Ibadat dan Misteri Ekaristi (Eucharisticum Mysterium; 1967),

-Konggregasi Suci Ritus,Instruksi Kedua mengenai Penerapan yang tepat dari Konstitusi Mengenai Liturgi Suci (Tres Abhinc Annos, 1967);

-Konggregasi Suci Ibadat Ilahi, Instruksi Ketiga mengenai Penerapan yang tepat dari Konstitusi Mengenai Liturgi Suci (Liturgiae Instaurationes, 1970)
---

Liturgi itu sudah ada aturan bakunya, tidak seenaknya diubah2. Dan adalah hak kita sebagai awam untuk bisa mengikuti misa yang sesuai dengan aturan liturgi, bukan?

Pola pikir Protestan atau yg mirip sama protestant itu jangan sampai dibiarkan terbawa masuk ke dalam Gereja...
Patut disayangkan bahwa betapa terdapat begitu banyak penyimpangan yang terjadi dalam liturgi dewasa ini. Dan terdapat begitu banyak alasan bagi penyimpangan2 ini.

> Sementara orang menolak untuk MENERIMA OTORITAS ABSAH Gereja untuk MEMBANGUN TATA ATURAN yang MENGIKAT bagi liturgi. Mereka menolak untuk mengikuti petunjuk2 liturgis dan MENOLAK MENGHORMATI dokumen-dokumen yang dikeluarkan oleh OTORITAS yang SAH.

Hari ini sebagai contoh faktual dan relevant, ada sekelompok umat beriman di saat Gereja merayakan kelahirannya pada Hari Raya Pentekosta ini, Misa Pentekosta justru dirayakan di luar gedung Gereja dan bukannya di dalam gedung Gereja dengan sepengetahuan bahkan disponsori Komisi Liturgi. Padahal Instruksi Redemptionist Scramentum dan Hukum Kanon yang mengikat seluruh umat awam jelas2 menyatakan:

Tuesday, May 21, 2013

KAPAN ENGKAU KEMBALI...??: Kepergiaan untuk Pulang


elisabeth alfrida =====>  Kapan engkau kembali...? demikianlah sepenggal bait pertanyaan ketika ada perpisahaan. Pertanyaan kapan engkau kembali, tidak semata karena dia, engkau satu kampung dengan saya, atau dia, engkau teman, sahabat atau anggota keluarga, tapi dimaknai lebih mendalam sebagai kerinduan dan harapan atas sosok kehadiran dan keberadaan aku, engkau dan dia yang memberikan sebuah nilai persatuan, nilai kedamaian di dalam kebersamaan yang dialami oleh orang lain atas paguyuban itu.
Sejenak berbagi pengalaman. Ketika aku menelphon temanku di Jogja, Jakarta atau menelphon saudara-saudariku dan para konfraterku di Madagascar, pertanyaan yang sama; “kapan engkau ke Jogja, Jakarta atau kapan engkau kembali ke Madagascar” selalu dilontarkan kepadaku. Bagiku pertanyaan ini bukan karena dia, mereka mengenal aku tetapi lebih dari itu pertanyaan ini adalah Kerinduan dan Harapan akan Persatuan yang tetap terjalin meski berbeda situasi ruang dan waktu.Pertanyaan “Kapan engkau kembali?”, bagi saya bukan soal kehadiran fisik dan bukan pula ereka tidak menghendaki dan menginginkan perpisahan tetapi lebih dari itu adalah sebuah Doa agar tetap satu dalam Iman yang saling meneguhkan dan menguatkan dan membawa kedamaian serta kesejukan. Kapan engkau kembali adalah sebuah jawaban atas kerinduan untuk kembali. Perpisahaan bukan akhir dari kebersamaan, tetapi perjalanan untuk pulang membingkai kebersamaan dalam doa meski tak berhadapan muka dan tak berjabat tangan. Diakui bahwa perpisahan menyisakan kesedihan dan duka. Namun harus diakui pula bahwa kesedihan dan duka adalah SEMANGAT BARU untuk pergi merajut persatuan dengan yang lain dan pulang untuk membawa SEMANGAT PERSATUAN YANG BARU yang tidak akan pernah hilang digesur gelombang waktu.Pertanyaan “kapan engkau kembali?” adalah sebuah Doa Harapan agar persatuan dan kebersamaan ini tetap terpelihara seperti doa Yesus; “peliharalah mereka dalam namaMu....supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (bdk. Yoh 17:11b). Pertanyaan “kapan engkau kembali?” bukan karena sekedar perasaan kangen, melainkan karena PERSATUAN dan KEBERSAMAAN itu sendiri dibangun atas dasar IMAN dan DOA yang saling memberikan semangat peneguhan dan kekuatan iman untuk hidup sebagai satu keluarga yang selalu merindukan kebersamaan yang dibangun dalam ketulusan, kejujuran, kebenaran dan kerendahan hati serta pengorbanan.Kapan engkau kembali, adalah Kerinduan Iman dan Harapan doa menyertai perjalanan sekaligus menanti kepulangan untuk tetap merenda persatuan dalam rumah kesatuan. Sebab kepergiaan untuk merenda persatuan dengan yang lain dan pulang untuk menikmati kebersamaan dan persatuan yang saling meneguhkan dan menguatkan satu sama lain. Semoga.Kerinduan Iman, Harapan doa: Dasar PersatuanRabu Pekan Paskah VII: 15 Mei 2013witten by Lie Jelivan msf

KATEKESE SEBELUM TIDUR

elisabeth alfrida =====> Apa dasar ajaran Gereja Katolik bahwa Bunda Maria diangkat ke surga? 

Dogma Maria diangkat ke surga berhubungan dengan ajaran Gereja Katolik lainnya tentang Bunda Maria, yaitu bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh Allah, sehingga Maria menjadi ‘Sang Tabut Perjanjian Baru’ yang mengandung Kristus sebagai penggenapan Perjanjian Lama. Sama seperti Kristus yang dikandungnya dimuliakan Allah dengan kenaikan-Nya ke surga, demikian pula Bunda Maria dimuliakan oleh Allah dengan diangkat ke surga setelah akhir hidupnya di dunia. Pengangkatan Bunda Maria ke surga ini memberikan pengharapan bagi penggenapan janji Allah kepada semua umat beriman yang setia sampai pada akhirnya.

1. Bunda Maria adalah Tabut Perjanjian Baru yang selalu berada dalam kesatuan dengan Kristus yang dikandungnya.

Kitab Mazmur mengajarkan, “Bangunlah, ya TUHAN, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau serta tabut kekuatan-Mu!” (Mzm 132:8). Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Kristus, akan selalu bersama dengan Kristus. Jika Henokh dan nabi Elia dapat diangkat oleh Tuhan ke surga (lih. Kej 5:24, Ibr 11:5. 2 Raj 1:11-12, 1 Mak 2:58) maka terlebih lagi Tuhan Yesus dapat melakukan hal itu terhadap Ibu-Nya sendiri.

2. Kitab Suci menggambarkan secara figuratif bahwa Bunda Maria adalah ratu, yang menerima kemuliaan karena kemuliaan Puteranya.

Kitab Raja- raja mengisahkan bagaimana Raja Salomo (anak Raja Daud) menghormati ibunya, Batsyeba, dan raja menyediakan tempat bagi bundanya di sebelah kanannya (lih. 1 Raj 2:19). Kristus, sebagai Raja keturunan Daud dan Putera Allah sendiri, akan berbuat yang sama, yaitu menghormati ibu-Nya dan menyediakan tempat baginya di sisi kanan-Nya di Surga. Jika raja di dunia tahu menghormati ibunya, maka Kristus Sang Raja di atas segala raja, tidak akan kurang dalam memberi penghormatan kepada ibu yang melahirkan-Nya ke dunia.

Kitab Mazmur menggambarkan perkawinan raja, di mana raja yang digambarkan di sana adalah Kristus: “Engkau yang terelok di antara anak- anak manusia…. Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya…. sebab itu Allah telah mengurapi engkau… di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, disebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.” (Mzm 45:3-10) Permaisuri di sebelah kanan raja adalah bunda sang raja, sebagaimana ratu Batsyeba di jaman Raja Salomo.

Kitab Wahyu menggambarkan Tabut perjanjian sebagai seorang perempuan yang mengandung Anak laki- laki, “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat. Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya…. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi…” (Why 11:19- 12:1-12). Gereja Katolik menginterpretasikan ‘perempuan’ ini secara literal sebagai Bunda Maria, yaitu “perempuan” yang sama yang disebutkan pada Kej 3:15 dan Yoh 2:4; 19:26. Namun demikian, Gereja Katolik juga menerima interpretasi allegoris lainnya, yaitu bahwa ‘perempuan’ ini dapat diinterpretasikan sebagai Gereja, Israel ataupun Yerusalem sorgawi.