Romo Magnis, sapaan pastor dan profesor filsafat itu, merasa terhina dengan penghargaan yang akan diberikan kepada SBY.
“Saya merasa ini sangat tidak wajar, luar negeri memberi award for tolerance, di saat tindakan-tindakan intoleransi merajalela di negeri ini. Saya merasa terhina dengan tawaran seperti itu,” kata Romo Magnis Suseno seperti dikutip merdeka.com, Kamis (16/5).
Soal pendapat pihak Istana bahwa kasus intoleransi di Indonesia kecil dan tidak bisa digeneralisir, Romo Magnis sama sekali tidak setuju. Menurut catatan dia, sudah ada enam orang terbunuh karena kasus kekerasan atas nama agama.
“Tiga dari Ahmadiyah, dan tiga dari Syiah. Dan itu tidak kecil,” tegas guru besar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini.


